LANGIT Kutai Timur (Kutim) belakangan ini tidak lagi biru bersih. Ada asap yang menyelinap di antara rumah-rumah warga. Dan di baliknya, ada angka yang terus merangkak naik: kasus ISPA.
Dinas Kesehatan (Diskes) Kutim mencatat sudah ada 2.586 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut sejak awal tahun hingga Agustus 2026. Angka ini mulai naik sejak Mei, dan terus begitu, bulan demi bulan, seiring cuaca yang makin panas dan kebakaran hutan dan lahan yang makin sering terjadi.
Kepala Diskes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, tidak menutup-nutupi kekhawatirannya.
"Cuaca lumayan panas, lalu ditambah seringnya terjadi kebakaran lahan sehingga menyebabkan asap di mana-mana. Polusi udara ini langsung mengganggu pernapasan," katanya.
Salah satu potret paling jelas ada di Puskesmas Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta. Di sana, jumlah pasien ISPA naik dari bulan ke bulan: 285 pasien pada Juni, lalu melonjak jadi 438 pasien di Juli. Dan pada Agustus, angkanya kembali naik, tembus 503 pasien.
Artinya, hanya dalam tiga bulan, ada tambahan 218 pasien baru. Bukan angka kecil untuk satu puskesmas saja.
Bagi Yuwana, ini bukan sekadar musim yang lewat begitu saja. Cuaca panas dan karhutla, katanya, saling terkait dan langsung menyerang saluran pernapasan warga.
"Ini menjadi perhatian serius kami karena ancaman cuaca panas dan karhutla saling berkaitan langsung dengan saluran pernapasan warga," ujarnya.
Apa yang Dianjurkan Diskes Kutim?
Diskes Kutim meminta warga di wilayah terdampak asap untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, terutama saat kualitas udara sedang buruk-buruknya. Kalau memang harus keluar, masker jadi wajib dipakai.
Selain itu, ada anjuran sederhana yang sering dilupakan: perbanyak minum air putih, perbanyak makan sayur dan buah.
"Banyak minum air putih, serta perbanyak makan sayur dan buah-buahan agar daya tahan tubuh bagus dan tidak mudah terserang penyakit," ajak Yuwana. (*)
















