ASAP kebakaran hutan dan lahan atau karhutla ternyata tidak berhenti di tenggorokan. Ia bisa menembus jauh ke dalam paru-paru. Dan itu yang membuatnya berbahaya, apalagi kalau dihirup berulang-ulang saat kualitas udara sedang buruk.
Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zata Dini, menjelaskan asap karhutla bukan sekadar debu terbang biasa. Di dalamnya ada campuran partikel dan gas hasil pembakaran material, salah satunya yang paling berbahaya adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer, atau biasa disingkat PM 2,5.
Ukurannya memang kecil. Tapi justru karena kecil itulah ia bisa lolos masuk sampai ke saluran napas terkecil, bahkan ke alveolus—kantung udara di dalam paru-paru tempat oksigen diserap ke darah.
“Asap karhutla bukan hanya debu biasa. Di dalamnya terdapat partikel dan gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, serta mengganggu fungsi paru,” jelas Zata Dini, dikutip, Minggu, 6 September 2026.
Dokter yang juga bertugas di Rumah Sakit Umum UMM ini mengingatkan, karbon monoksida dalam asap karhutla juga tidak kalah berbahaya. Gas ini bisa mengurangi kemampuan darah dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Belum lagi kandungan nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan ozon. Ketiganya bisa mengiritasi saluran napas dan memperburuk penyempitan bronkus. Begitu terhirup, efeknya bisa langsung terasa: batuk, lendir berlebih, suara serak, mengi, sampai sesak napas.
Selain itu, mata perih, hidung tersumbat, tenggorokan kering, sakit kepala, pusing, mual, dan dada terasa berat juga jadi keluhan yang sering menyertai. Bagi penderita asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), asap karhutla bisa memicu kekambuhan, bahkan memperparah kondisi yang tadinya sudah stabil.
Bahaya Paparan Berulang
Yang perlu diwaspadai bukan cuma paparan sesaat. Kalau asap terhirup berhari-hari, apalagi berminggu-minggu, peradangan saluran napas bisa terjadi berulang. Dampaknya, sensitivitas saluran pernapasan meningkat dan fungsi paru ikut terganggu dalam jangka panjang.
Kelompok yang perlu perhatian ekstra adalah anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit kronis, dan pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
“Orang yang sebelumnya sehat bukan berarti sepenuhnya kebal terhadap polusi udara. Risiko tetap ada, terutama ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung berulang,” tegas Zata Dini.
Cara Melindungi Diri
Lalu, bagaimana cara melindungi diri dari asap karhutla? Zata Dini membagikan beberapa langkah sederhana:
Batasi aktivitas di luar ruangan saat asap terlihat pekat atau kualitas udara memburuk.
Tunda olahraga berat di luar ruangan. Aktivitas fisik membuat frekuensi dan volume napas meningkat, sehingga asap yang terhirup pun lebih banyak.
Tutup pintu dan jendela saat asap mulai masuk ke rumah.
Gunakan air purifier berfilter HEPA untuk membantu menyaring partikel halus di udara dalam ruangan.
Pakai masker N95, KN95, atau KF94 yang terpasang rapat jika harus beraktivitas di luar. Masker jenis ini terbukti lebih efektif menyaring partikel asap dibanding masker biasa.
Namun ada catatan penting: masker tidak bisa menyaring karbon monoksida dan sebagian besar gas beracun lainnya. Jadi, cara paling ampuh tetaplah mengurangi paparan sebisa mungkin.
Zata Dini juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunda pertolongan medis bila muncul tanda-tanda serius.
“Jika muncul sesak napas berat, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, penurunan kesadaran, bibir kebiruan, atau keluhan yang semakin memburuk, jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan medis,” pesan dia. (*)
















