PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memasang badan untuk masa depan para tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di daerahnya. Lewat keberlanjutan program Gratispol Kaltim, para guru hingga dokter tak perlu lagi pusing memikirkan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) saat melanjutkan studi.
Kebijakan ini dirancang langsung menyasar jalur afirmasi. Tujuannya, membebaskan para garda terdepan pendidikan dan kesehatan dari jerat finansial saat meningkatkan kompetensi pascasarjana.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan bahwa pemerintah daerah sengaja memprioritaskan dua sektor vital ini agar mereka bisa fokus belajar tanpa terdistraksi masalah biaya.
"Kita utamakan untuk guru dan tenaga pendidik serta perawat, kedokteran, medis. Ini kita berikan afirmasi secara langsung sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari, kami sudah siapkan UKT gratis tersebut," tegas Seno Aji.
Skema Gratispol Kaltim tidak mengurung para penerimanya hanya di kampus-kampus lokal. Pemprov Kaltim memberi ruang gerak luas bagi para guru dan nakes untuk menimba ilmu di perguruan tinggi terbaik di luar daerah.
Langkah ini diambil agar kualitas SDM Kaltim melompat lebih tinggi. Fleksibilitas ini menjadi angin segar bagi para praktisi yang mendambakan spesialisasi atau jenjang magister di kampus terkemuka tanah air.
"Bahkan untuk yang di luar Kaltim, selama dia tenaga pendidik dan guru, tetap kita akan berikan UKT secara gratis," lanjut Seno Aji.
Guna menopang ambisi besar ini, Pemprov Kaltim tidak main-main. Dana sebesar Rp1,3 triliun disiapkan tahun ini demi mengawal keberlanjutan sektor pendidikan dan kesehatan.
Meski dialokasikan secara inklusif bagi generasi muda Benua Etam, sektor pendidikan dan medis tetap berada di barisan terdepan penerima manfaat.
Namun, ada satu syarat moral yang diminta pemerintah daerah: ilmu yang didapat harus dibawa pulang untuk membangun Kalimantan Timur.
"Kuota kita tahun ini kurang lebih sekira Rp1,3 triliun untuk semua program pendidikan Gratispol Kaltim. Itu yang akan kita berikan ke semua anak-anak Kaltim, tapi untuk tenaga pendidik dan medis kita utamakan, selama mereka kembali ke Kaltim," urai Seno Aji. (*)















