SEBANYAK 11.869 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 1-21 Agustus 2026. BMKG Stasiun Balikpapan mengajak pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari pencegahan hingga penanganan.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan ribuan titik panas tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota di Kaltim.
"Terdapat 11.869 titik panas di Kaltim yang berhasil dideteksi BMKG selama 1-21 Agustus 2026. Jumlah ini tersebar di 10 kabupaten/kota," ujar Huda di Balikpapan, Sabtu.
Jumlah titik panas tersebut meningkat dibandingkan periode kemarau serupa pada 2015. Kala itu, BMKG mendeteksi 9.793 titik panas selama satu bulan pada Agustus.
Menurut Huda, kondisi tahun ini perlu mendapat perhatian karena fenomena El Nino yang terjadi diprakirakan lebih kering di Kaltim.
Situasi tersebut membuat upaya mitigasi karhutla perlu dilakukan secara konsisten. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah sumber api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Huda menilai larangan dan edukasi agar masyarakat tidak melakukan pembakaran ketika membuka lahan pertanian maupun perkebunan perlu terus digencarkan.
"Untuk edukasi dan pendekatan, hal mendesak saat ini adalah ajakan tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan baik pertanian maupun perkebunan, karena pembakaran berpotensi membakar lahan lain saat terjadi angin kencang," katanya.
Selain pembukaan lahan, aktivitas sehari-hari juga perlu mendapat perhatian. Membakar sampah atau membuang puntung rokok yang masih membara di kawasan hutan dan perkebunan dapat memicu munculnya api ketika mengenai daun atau material kering.
BMKG mendorong pemerintah dan pihak terkait terus melakukan pendekatan kepada masyarakat agar potensi sumber api dapat ditekan.
Huda mengatakan upaya pencegahan karhutla tidak cukup dilakukan dalam waktu singkat. Edukasi dan ajakan kepada masyarakat perlu diteruskan hingga beberapa bulan ke depan.
Puncak kondisi panas di Kaltim diprakirakan terjadi pada September hingga Oktober. Dengan kondisi yang lebih kering, potensi peningkatan titik panas juga perlu diantisipasi.
"Ajakan ini harus terus menerus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan, karena puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan bukan bulan ini saja, tapi masa puncak panas diprakirakan terjadi pada September hingga Oktober, sehingga kemungkinan titik panas pun akan meningkat," ujarnya.
Dalam Sehari Terdeteksi 565 Titik Panas
Dari total 11.869 titik panas yang terdeteksi selama 21 hari, rata-rata terdapat sekitar 565 titik panas per hari yang tersebar di berbagai wilayah Kaltim.
Data harian BMKG Stasiun Balikpapan menunjukkan kondisi yang masih tinggi. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, sejak pukul 01.00 hingga 24.00 Wita, terdeteksi 980 titik panas di Kaltim.
Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan sebaran terbanyak, yakni mencapai 439 titik panas. Berikutnya, Kutai Timur tercatat 178 titik, Kutai Kartanegara 166 titik, Paser 113 titik, dan Kutai Barat 69 titik.
Penajam Paser Utara dan Bontang masing-masing tercatat enam titik panas. Mahakam Ulu terdeteksi dua titik, sedangkan Balikpapan satu titik panas.
Tingginya jumlah titik panas membuat pencegahan menjadi pekerjaan bersama. BMKG menekankan pentingnya mengurangi aktivitas yang dapat menjadi sumber api, terutama pembakaran lahan, pembakaran sampah, serta kelalaian membuang puntung rokok di area yang memiliki material mudah terbakar. (*)















