pranala.co, BONTANG - Kodim 0908/BTG siap mendukung dan mengawal penuh proses pembangunan pabrik amonium nitrat dan asam nitrat di kawasan industri PT Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang, Kalimantan Timur.
Sebagai salah satu objek vital strategis dalam industri pertahanan nasional, pembangunan pabrik bahan peledak itu ditargetkan rampung 20 Oktober 2022 mendatang. Namun hingga saat ini, progres pembangunan baru mencapai 79 persen. Sehingga diharapkan hingga empat bulan ke depan, pekerjaan bisa lancar dan tidak ada hambatan dari berbagai pihak, agar pabrik bisa rampung sesuai dengan target yang diharapkan.
BACA JUGA: Kakek 51 Tahun Masuk Bui karena Curi Ponsel
"Kami (TNI) akan backup full. Kami akan selalu mengawal dan memastikan pembangunan berjalan aman, lancar, dan sesuai prosedur yang berlaku," ujar Dandim 0908/BTG, Letkol Arh Choirul Huda di sela-sela melakukan kunjungan lapangan ke PT Wijaya Karya (Wika) bersama jajarannya, Jumat (10/6/2022) pagi.
Pembangunan pabrik ini, kata Dandim, sangat penting. Sebab bahan peledak yang dihasilkan nantinya, dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan maupun industri. Di sisi lain, juga akan meningkatkan perekonomian bagi warga Bontang itu sendiri.
Termasuk bakal menyerap banyak tenaga lokal dengan syarat memiliki keahlian di bidangnya. Apalagi proyek semacam ini, hanya ada di tiga di Indonesia, salah satunya Bontang. Untuk itu, pihaknya juga memastikan sistem perekrutan tenaga kerja sesuai dengan aturan yang berlaku.
"Sehingga ini semua perlu sinergitas. Kepada seluruh stakeholder dan masyarakat Bontang, mari kita dukung proyek pembangunan pabrik ini," pesan Dandim.
Pembangunan pabrik dengan nilai investasi Rp 1,1 triliun itu dikelola oleh PT Kaltim Amonium Nitrat (KAN), yang merupakan perusahaan patungan kerja sama antara PT Dahana dengan PT Pupuk Kaltim. Saat ini, proyek konstruksi bangunan sedang dikerjakan oleh PT Wika.
BACA JUGA: Stadion Segiri Samarinda Siap Gelar Piala Presiden 2022
Projek Manajer PT Wika, Hadi Prasetyo menyampaikan, seharusnya progres pembangunan pabrik saat ini sudah mencapai 82 persen. Salah satu yang menjadi penghambat yakni kondisi pandemi Covid-19 yang melanda selama beberapa tahun terakhir. Kendati demikian pihaknya berharap, proyek yang turut diawasi Kementerian Pertahanan RI ini bisa rampung tepat waktu.
"Pabrik ini nantinya berkapasitas produksi amonium nitrat 75 ribu metrik ton per tahun, dan asam nitrat (nitrit acid) 60 ribu metrik ton per tahun," terang Hadi. [BMS]














