BONTANG, Pranala.co – Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi air sudah lebih dulu menyapa halaman rumah warga di Bontang Kuala. Sejak beberapa hari terakhir, banjir rob merendam kawasan pesisir Kota Bontang. Mengganggu aktivitas harian warga, terutama anak-anak sekolah yang harus berjuang menembus genangan air demi sampai ke kelas.
Mengantisipasi gangguan mobilitas warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang langsung bergerak. Dua unit mobil disiagakan khusus untuk membantu para pelajar agar tetap bisa bersekolah di tengah genangan.
“Kalau sudah banjir rob, pengendara motor pasti kesulitan melintas. Aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah, tentu terganggu. Kami siapkan dua mobil untuk membantu mengangkut anak-anak ke sekolah,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bontang, Usman, saat dikonfirmasi, Rabu (14/5/2025).
Menurut data BPBD, ada tiga sekolah yang terdampak langsung akibat rob kali ini: MTs Al-Ikhlas, MAN Bontang, dan SDN 001 Bontang Utara. Ketiganya berada di kawasan pesisir yang kini sulit diakses, khususnya oleh kendaraan roda dua.
Puncak pasang laut diprediksi terjadi pada Sabtu, 17 Mei 2025, antara pukul 05.28 hingga 07.50 WITA. Selama waktu tersebut, genangan diperkirakan akan terus tinggi, mengganggu aktivitas masyarakat di pagi hari.
Usman menjelaskan, banjir rob bukan hal baru bagi warga Bontang Kuala. Fenomena ini datang nyaris setiap tahun. Namun, kali ini genangannya terasa lebih luas dan lebih tinggi. Penyebabnya tak lain adalah perubahan iklim global.
“Banjir rob memang kerap terjadi, terutama di daerah pesisir. Mau tidak mau, warga harus bisa beradaptasi. Tahun ke tahun bisa makin tinggi karena dampak pemanasan global,” ucapnya.
Selain bantuan armada, BPBD juga mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan agar genangan tidak semakin parah. Saluran air yang tersumbat lumpur dan sampah kerap memperparah rob yang datang dari laut.
Usman mengajak warga untuk aktif bergotong royong, membersihkan selokan, dan tak ragu berkoordinasi dengan pihak kelurahan bila memerlukan bantuan lebih lanjut.
“Segera hubungi kami atau petugas kelurahan kalau butuh bantuan. Lingkungan bersih bisa mengurangi risiko banjir makin tinggi,” tambahnya.
Di Bontang Kuala, laut adalah sahabat, tapi juga bisa menjadi tantangan. Saat air pasang datang dan menembus jalan-jalan sempit perkampungan, warga tak lagi asing.
Mereka menyesuaikan ritme hidup dengan pasang surut air, menyesuaikan waktu keluar rumah, dan kini—menyesuaikan cara anak-anak mereka menuju sekolah. [ZI]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















