KASUS HIV di Kutai Timur (Kutim) masih menjadi perhatian serius. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) setempat mencatat 285 orang dengan HIV (ODHIV) berhasil teridentifikasi melalui layanan deteksi dini yang terus diperluas.
Dari estimasi sekira 23 ribu orang yang masuk kelompok berisiko, baru sekitar 34 persen yang berhasil dijangkau melalui layanan skrining HIV.
Data itu dipaparkan Kepala Diskes Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati saat Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV/AIDS di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Jumat (24/7/2026).
Menurut Yuwana, bertambahnya jumlah kasus yang ditemukan bukan semata menunjukkan peningkatan penularan, tetapi juga menandakan semakin luasnya upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah.
"Hingga Mei 2026 terdapat 285 kasus baru ODHIV yang berhasil ditemukan. Semakin banyak yang teridentifikasi, semakin besar peluang mereka mendapatkan pengobatan," ujarnya.
Diskes Kutim terus memperluas akses layanan HIV/AIDS. Saat ini pelayanan telah tersedia di 31 fasilitas kesehatan, terdiri atas 21 puskesmas, tiga rumah sakit pemerintah, tujuh rumah sakit swasta, dan satu klinik.
Perluasan layanan tersebut diharapkan memudahkan masyarakat mendapatkan pemeriksaan maupun terapi tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Meski akses layanan semakin terbuka, capaian program masih menghadapi sejumlah tantangan.
Berdasarkan indikator global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga Mei 2026 sebanyak 72 persen ODHIV telah menjalani terapi Antiretroviral (ARV). Namun, cakupan pemeriksaan viral load baru mencapai 61 persen, sedangkan pasien dengan viral load tersupresi masih berada di angka 58 persen.
"Artinya akses pengobatan sudah meningkat, namun pemeriksaan viral load dan kepatuhan pengobatan masih harus diperkuat agar target nasional dapat tercapai," kata Yuwana menukil Prokutim.
Selain pengobatan, Diskes juga menyoroti rendahnya cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi ODHIV yang baru mencapai sekitar 34 persen.
Kondisi itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan stok obat, kurangnya edukasi kepada petugas kesehatan, hingga masih rendahnya kesadaran pasien untuk menjalani terapi secara rutin.
Di lapangan, tantangan lain juga tidak kalah besar. Luasnya wilayah Kutim membuat akses layanan kesehatan belum merata. Belum lagi tingginya stigma terhadap ODHIV, mobilitas pekerja lintas daerah, serta masih banyak pasien yang menghentikan pengobatan sebelum selesai atau lost to follow up.
Guna menjawab persoalan tersebut, Diskes Kutim menyiapkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari memperluas layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT), memperkuat kolaborasi lintas sektor, memberdayakan peer educator di komunitas berisiko, hingga mengintegrasikan layanan HIV/AIDS dengan program kesehatan lainnya.
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menegaskan penanganan HIV/AIDS tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat harus ikut terlibat agar semakin banyak kasus dapat ditemukan lebih awal.
"HIV ini seperti gunung es. Yang terlihat hanya sedikit, padahal di bawah permukaan masih banyak yang belum teridentifikasi. Karena itu kita harus melakukan pemetaan, deteksi dini, dan pencegahan bersama-sama," tegasnya.
Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berharap organisasi perangkat daerah, fasilitas kesehatan, dunia usaha, hingga komunitas dapat memperkuat sinergi dalam menekan laju penularan HIV/AIDS.
Semakin banyak masyarakat yang menjalani deteksi dini, semakin besar pula peluang mereka memperoleh pengobatan lebih cepat. Langkah itu diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup ODHIV, tetapi juga menjadi kunci memutus rantai penularan HIV di Kutai Timur. (*)















