Pranala.co, SANGATTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Diskes Kutim) mencatat sebanyak 105 kasus suspek campak sejak awal tahun 2026. Seluruh kasus tersebut masih berstatus dugaan awal dan saat ini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.
Kepala Diskes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan angka tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pasalnya, apabila hasil pemeriksaan laboratorium menemukan satu saja kasus positif, maka kondisi itu berpotensi ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Dari minggu pertama Januari sampai minggu pertama Maret jumlah kasus suspek campak sudah mencapai 105 kasus. Statusnya masih suspek karena kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Samarinda,” ujar dr. Yuwana.
Menurutnya, temuan suspek campak hampir ditemukan di seluruh kecamatan di Kutai Timur. Namun jumlah kasus terbanyak tercatat di Kecamatan Sangatta Utara, Teluk Pandan, dan Sangatta Selatan.
Dinkes Kutai Timur terus melakukan pemantauan perkembangan kasus sembari menunggu kepastian hasil uji laboratorium untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
dr. Yuwana menjelaskan, campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus morbilli. Penyakit ini tergolong sangat mudah menular melalui percikan ludah atau droplet yang keluar saat penderita batuk atau bersin.
“Penularannya sangat cepat, bisa melalui percikan ludah, air liur, maupun cairan dari penderita. Gejalanya biasanya demam, muncul ruam kemerahan di kulit, disertai batuk, pilek, dan mata merah,” jelasnya.
Ia menegaskan penyakit campak tidak boleh dianggap ringan karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak.
“Jika tidak ditangani dengan baik, campak bisa menyebabkan komplikasi seperti infeksi telinga, pneumonia, hingga radang selaput otak. Bahkan dalam kasus tertentu dapat menyebabkan kematian,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kutai Timur meningkatkan kewaspadaan dini di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit.
Setiap kasus demam yang disertai ruam kulit diminta segera dilaporkan melalui sistem surveilans kesehatan agar dapat ditangani dengan cepat.
Selain itu, pasien yang diduga terinfeksi campak dianjurkan menjalani isolasi sementara untuk mencegah penularan kepada orang lain, terutama anak-anak dan ibu hamil.
“Kalau ada anak yang mengalami gejala campak sebaiknya tidak dulu beraktivitas di luar rumah atau pergi ke sekolah agar tidak menularkan kepada teman-temannya,” katanya.
Diskes Kutai Timur juga mengimbau masyarakat untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak atau Measles Rubella (MR) secara lengkap sesuai jadwal.
dr. Yuwana menyebut cakupan imunisasi campak di Kutai Timur sebenarnya sudah cukup tinggi, yakni sekitar 88 persen. Namun untuk dosis kedua masih berada di angka 65 persen.
“Artinya masih banyak anak yang tidak kembali untuk mendapatkan vaksin kedua, padahal itu penting untuk memperkuat kekebalan tubuh,” pungkasnya. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















