SEBANYAK 13 siswa SMP Vidatra Bontang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit LNG Badak setelah mengalami mual dan muntah yang diduga muncul usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (10/8/2026).
Dari total 29 siswa yang sempat masuk rumah sakit, 13 orang masih menjalani rawat inap untuk menunggu hasil observasi dokter. Kondisi tersebut disampaikan Kepala SMP Vidatra Bontang Muhammad Sholihin dalam rapat koordinasi penanganan kasus MBG di Bontang, Selasa (11/8/2026).
“Sampai saat ini dari 29 yang masuk di rumah sakit, masih ada 13 yang dirawat inap karena menunggu observasi dari dokter,” kata Sholihin.
Sholihin menjelaskan, makanan MBG diterima pihak sekolah sekira pukul 08.30 hingga 09.00 Wita. Makanan kemudian dikonsumsi siswa saat waktu istirahat pagi.
Sekitar pukul 11.00 Wita, sejumlah siswa mulai mengeluhkan mual dan muntah. “Setelah dikonsumsi memang tidak langsung. Reaksinya baru sekitar jam 11.00 Wita,” ujarnya.
Siswa yang mengalami keluhan kemudian melapor kepada guru dan dibawa ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Pihak sekolah melakukan penanganan awal sesuai prosedur yang telah diterapkan di lingkungan Yayasan Vidatra.
Ketika kondisi sejumlah siswa dinilai lebih parah, pihak sekolah membawa mereka ke Rumah Sakit LNG Badak karena lokasinya paling dekat dari sekolah.
“Karena saya lihat kondisi anak-anak sudah sakit perut, menangis dan lain sebagainya, makanya kita bawa langsung ke RS LNG Badak,” kata Sholihin.
Tidak semua siswa langsung dibawa ke rumah sakit. Menurut Sholihin, saat kejadian kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit LNG Badak sedang penuh.
Pihak sekolah kemudian meminta petugas medis dari rumah sakit datang ke lokasi untuk melakukan observasi dan memberikan penanganan awal.
“Kami panggil perawat dari rumah sakit itu untuk datang ke sekolah agar lebih cepat penanganannya,” ujarnya.
Setelah mendapat penanganan, sebagian siswa kemudian dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan observasi lebih lanjut.
Selain kondisi kesehatan siswa, pihak SMP Vidatra Bontang juga mempertanyakan mekanisme pembiayaan perawatan, terutama bagi siswa yang bukan anak karyawan Badak LNG.
Sholihin menjelaskan sebagian siswa merupakan anak karyawan yang memiliki fasilitas kesehatan dari orang tua. Namun, terdapat pula siswa umum yang berstatus penerima beasiswa.
Kondisi tersebut membuat sekolah membutuhkan kepastian mengenai pihak yang akan menanggung biaya apabila muncul biaya perawatan akibat kejadian tersebut.
“Kalau anak karyawan langsung include ke orang tuanya. Sementara di Vidatra siswa program beasiswa, anak umum, yang menanggung biaya siapa? Kalau biaya ditanggung sekolah, dana BOS juga tidak ada dialokasikan ke situ,” jelas Sholihin.
Pihak sekolah berharap mekanisme pembiayaan segera mendapat kejelasan sehingga persoalan tersebut dapat disampaikan kepada yayasan dan memperoleh solusi.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Regional Kalimantan, Paska Pakpahan, mengatakan mekanisme pembiayaan korban masih akan dikonsultasikan dengan pimpinan.
Menurut Paska, status kejadian menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Jika nantinya kejadian tersebut ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), pembiayaan dapat dianggarkan melalui pemerintah daerah sesuai mekanisme yang berlaku.
“Tetapi nanti kita juga akan berkonsultasi dengan pimpinan terkait pertanggungjawaban,” kata Paska.
Dari 13 siswa yang masih menjalani perawatan, lima di antaranya merupakan anak karyawan Badak LNG. Biaya perawatan mereka disebut telah tercakup melalui fasilitas kesehatan yang dimiliki orangtua.
Masih ada delapan siswa yang status pembiayaannya belum dipastikan.
“Untuk yang delapan nanti apakah bisa ter-cover BPJS atau tidak, nanti pemerintah yang menyampaikan. Tapi apabila nanti tidak ter-cover, nanti akan kita sampaikan terkait pertanggungjawabannya kepada pimpinan,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris memastikan pemerintah akan berkoordinasi menangani berbagai persoalan yang muncul dari kejadian tersebut.
Koordinasi itu mencakup persoalan pembiayaan perawatan siswa yang masih menjalani observasi di rumah sakit.
“Segala sesuatu yang timbul dari permasalahan ini akan menjadi tanggung jawab pemerintah, baik itu BGN atau pemerintah daerah. Oleh karena itu, pihaknya akan segera berkoordinasi terkait persoalan ini,” kata Agus Haris.
Hingga Selasa (11/8/2026), sebanyak 13 siswa SMP Vidatra Bontang masih menjalani observasi di Rumah Sakit LNG Badak.
Pihak sekolah masih menunggu hasil pemeriksaan dokter untuk memastikan kondisi mereka dan kapan para siswa dapat diperbolehkan pulang. (*)















