MASYARAKAT Dusun Rindang Benua, Desa Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan kini sedang menaruh harapan besar pada Pemkab Kutai Timur (Kutim). Dusun terpencil yang kaya akan potensi wisata budaya ini mendesak pemenuhan hak-hak dasar yang selama ini dinanti.
Keluhan itu mencuat langsung di hadapan Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi. Warga mengeluhkan sulitnya akses air bersih hingga infrastruktur jalan yang belum memadai untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Kepala Adat Jating Lahang tidak menyia-nyiakan momen kedatangan orang nomor dua di Kutim tersebut. Di depan jajaran pejabat, ia membeberkan daftar panjang kebutuhan mendesak yang dihadapi warganya.
“Kami sangat membutuhkan penyediaan air bersih, peningkatan jalan lingkungan, dan pembangunan jembatan permanen,” kata Jating Lahang.
Bukan hanya soal infrastruktur fisik, Jating juga memperjuangkan nasib ekonomi dan masa depan anak-anak dusun. Mulai dari bantuan untuk kelompok tani, pembangunan balai adat, hingga fasilitas pendidikan dan olahraga yang layak.
Menanggapi tuntutan itu, Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi memberikan sinyal positif. Ia memastikan seluruh usulan masyarakat Dusun Rindang Benua akan menjadi prioritas perhatian pemerintah daerah.
“Usulan-usulan yang disampaikan tadi pada prinsipnya tidak ada masalah,” ujar Mahyunadi di Sangatta.
Pemerintah berkomitmen merealisasikan anggaran tersebut secepatnya. Skema pembiayaan akan diupayakan masuk melalui APBD Perubahan maupun APBD Murni Tahun 2027.
Di balik keterbatasan fasilitas, Dusun Rindang Benua menyimpan pesona sosial yang luar biasa. Wilayah ini dikenal mampu merawat toleransi dan keharmonisan di tengah keberagaman suku, adat, dan agama.
Kekayaan itu tecermin dalam Festival Bengen Lepek Majau yang baru saja digelar. Acara adat suku Dayak Kenyah ini menampilkan berbagai tarian daerah yang dibawakan oleh masyarakat dari beragam etnis.
“Para penari berasal dari berbagai suku dan tampil sangat baik. Ini membuktikan kebersamaan masyarakat di sini sudah terjalin sangat kuat,” ungkap Mahyunadi penuh apresiasi.
Melihat potensi itu, Pemkab Kutim berencana menetapkan kawasan ini sebagai dusun wisata resmi. Dinas Pariwisata setempat juga diminta untuk memasukkan Festival Bengen Lepek Majau ke dalam agenda tahunan daerah.
Langkah konkret terdekat adalah memperbaiki fasilitas pendukung dan akses jalan menuju kawasan wisata. Dia berharap, perbaikan ini tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mendongkrak ekonomi warga melalui sektor pariwisata. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















