SUARA tawa renyah memecah keheningan sore di Lapangan Helipad Bukit Pelangi, Sangatta, Kutai Timur (Kutim). Riuh rendah sorak-sorai ratusan warga langsung membuncah begitu seorang pria dewasa tersenggol lawan saat bermain gobak sodor.
Tidak ada layar gawai yang menyala di tangan mereka. Sore itu, gawai pintar yang biasa menyita waktu tersingkir sementara oleh kehangatan bernostalgia lewat ragam permainan tradisional.
Sebanyak 130 warga dari berbagai penjuru Kutai Timur berkumpul untuk menjemput kembali memori masa kecil mereka. Dalam acara bertajuk “Kumpul Seru: Main Lagi” yang digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026, lapangan terbuka tersebut mendadak penuh dengan energi masa lalu yang jenaka sekaligus mengharukan.
Matahari yang perlahan turun berganti lampu lapangan tidak menyurutkan semangat para peserta. Dari sore hingga malam hari, mereka larut dalam permainan legendaris seperti kasti, gobak sodor, benteng, kelereng, hingga lompat tali karet.
Menariknya, pemandangan di lapangan tidak hanya didominasi oleh anak-anak, melainkan tiga lintas generasi yang melebur menjadi satu. Kelompok usia Generasi Z, milenial, hingga para orang tua yang rambutnya mulai memutih tampak asyik berlarian mengejar bola kasti dan mempertahankan benteng mereka.
Koordinator kegiatan, Wily Christian, mengaku terkejut dengan antusiasme masyarakat yang melesat tajam pada pelaksanaan seri kedua ini. Jumlah peserta yang datang jauh melampaui prediksi awal panitia.
“Untuk seri kedua ini pesertanya tembus 130 orang. Gim yang dimainkan fokus pada permainan tradisional masa kecil yang dulu sering kita mainkan di halaman rumah,” ujar Wily saat ditemui di sela-sela riuhnya acara.
Wily menceritakan bahwa penggagas acara ini memiliki misi yang cukup mendalam. Di tengah gempuran algoritma media sosial dan candu gim daring yang kian mengisolasi anak-anak zaman sekarang, ruang publik seperti ini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kebudayaan komunal.
“Kami ingin gim-gim tradisional ini tidak mati ditelan zaman. Kami ingin menjaga dan melestarikan permainan masa kecil agar anak cucu kita tahu cara bermain bersama di dunia nyata,” kata Wily menegaskan.
Bagi para pekerja dan kaum milenial Sangatta yang telah berkeluarga, agenda ini berubah menjadi ruang rekreasi psikologis yang murah namun sangat berkesan. Setelah sepekan penuh bergulat dengan tekanan pekerjaan dan rutinitas kantor, berlari di atas rumput lapangan menjadi obat penawar stres yang ampuh.
“Khususnya teman-teman milenial yang sekarang sudah berkeluarga, bekerja, dan punya banyak aktivitas. Kami ingin mengajak mereka bernostalgia dan kembali merasakan keseruan permainan masa kecil,” tuturnya.
Melihat besarnya kerinduan masyarakat akan interaksi sosial yang nyata, pihak penyelenggara tidak ingin momentum ini berhenti sebagai acara seremonial belaka. Komunitas resmi bernama “Kumpul Seru” akhirnya dibentuk sebagai wadah pergerakan mereka ke depan.
Rencananya, lapangan Bukit Pelangi akan terus digoyang oleh keseruan ini setiap bulannya. Respons positif ini bahkan mulai memikat perhatian sejumlah institusi lokal yang berniat menjalin kerja sama untuk memperluas jangkauan kegiatan. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















