BEBAN berat yang dipikul para kader Posyandu di Bontang mendapat respons serius dari pemerintah setempat. Keluhan mereka di lapangan mengenai minimnya fasilitas dan tumpukan beban kerja kini memicu perombakan strategi besar-besaran.
Pemerintah Kota Bontang berjanji tidak akan menutup mata. Langkah nyata mulai disiapkan. Mulai dari perbaikan fasilitas, penguatan sistem kerja, hingga penyusunan anggaran baru untuk mendukung operasional di lini paling depan ini.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, blak-blakan mengakui bahwa kinerja para kader Posyandu selama ini sudah sangat maksimal. Sayangnya, kerja keras tersebut belum diimbangi dengan infrastruktur pendukung memadai.
“Kami menyadari masih banyak fasilitas yang harus dipenuhi. Ini akan kami rumuskan, baik infrastruktur maupun dukungan teknis lainnya, lalu kami ajukan dalam kebijakan anggaran,” ujar Agus Haris saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Sabtu (6/6/2026).
Bagi Agus Haris, urusan stunting bukan lagi sekadar program kerja rutin di atas kertas. Masalah ini adalah pertaruhan besar bagi masa depan generasi muda di Kota Taman.
Pendekatan lama yang terkesan jalan di tempat harus segera ditinggalkan.
“Stunting ini bukan hanya soal kurang makan. Ini soal bagaimana kita menyelamatkan masa depan anak-anak. Itu yang paling utama,” tegas Agus dengan nada bicara yang bersemangat.
Target besar pun langsung dipasang. Pemkot Bontang membidik penurunan angka stunting dari 15 persen menjadi 12,5 persen pada tahun ini. Demi mengejar target tersebut, validasi data di lapangan menjadi harga mati.
Aksi Timbang Serentak Dimulai 9 Juni
Langkah cepat yang akan diambil dalam waktu dekat adalah pelaksanaan gerakan timbang serentak. Agenda besar ini dijadwalkan bergulir Selasa (9/6/2026) mendatang.
Setelah proses penimbangan selesai, Dinas Kesehatan Bontang diberi waktu 14 hari untuk menganalisis dan memetakan kondisi anak-anak yang masuk dalam kategori berisiko.
“Dari hasil timbang, akan terlihat mana anak yang berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut, mana yang kekurangan gizi, atau yang terkendala sanitasi. Itu semua akan kami petakan,” urai Agus.
Data meleset tidak boleh lagi terjadi. Hasil dari pemetaan ini nantinya bakal menjadi kompas bagi kerja keroyokan lintas sektor.
Masalah stunting tidak akan dibebankan ke Dinas Kesehatan saja. Dinas PUPR akan bergerak membenahi sanitasi buruk, Dinas Sosial menyalurkan bantuan tepat sasaran, dan Dinas Pendidikan masuk dari sisi edukasi keluarga.
Salah satu poin krusial yang diubah adalah pembagian beban kerja kader Posyandu. Menghadapi total sekitar 7 ribu kasus stunting, pemerintah sempat mengkaji dua opsi skema kerja.
Opsi pertama adalah pembagian beban kasus secara merata ke seluruh kader. Opsi kedua, pembagian berbasis wilayah yang disesuaikan dengan jumlah kasus riil di tiap kelurahan.
Mendengar masukan langsung dari bawah, Pemkot akhirnya cenderung memilih opsi kedua karena dinilai jauh lebih manusiawi dan realistis bagi pergerakan kader.
“Kalau di satu wilayah kasusnya tinggi, ya dibagi sesuai jumlah kader di sana. Misalnya satu kader menangani 15 anak, itu justru bisa memacu kerja lebih cepat dan fokus,” jelasnya.
Menyadari masih banyak sumbatan informasi di lapisan bawah, Agus Haris menyatakan kesiapannya untuk turun langsung ke pemukiman warga. Terutama menyasar kelompok keluarga yang selama ini sulit dijangkau oleh edukasi formal.
“Saya akan turun langsung, kumpulkan warga yang belum paham. Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus kerja penuh waktu untuk persoalan ini,” ucapnya retoris.
Ke depan, pola kerja kader Posyandu juga akan bergeser ke sistem kunjungan rumah yang lebih terstruktur. Mereka tidak lagi sekadar pasif menunggu di Posyandu atau sekadar mencatat angka-angka.
Kader akan dibekali ruang untuk memantau langsung kondisi riil anak, mulai dari isi piring makan, kebersihan lingkungan tempat tinggal, hingga pola asuh orang tua.
Langkah jemput bola ini diharapkan mampu mengikis jurang pemisah antara laporan di atas meja dan realitas pahit yang dihadapi anak-anak di lapangan. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















