ANCAMAN stunting tidak selalu bisa dilawan hanya dengan bantuan makanan bergizi atau layanan kesehatan. Ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni bagaimana pesan kesehatan disampaikan kepada masyarakat.
Kesadaran itulah yang kini diperkuat Pemerintah Kota Bontang. Sebanyak 71 tenaga kesehatan (nakes) dibekali kemampuan komunikasi agar mampu menyampaikan edukasi kesehatan dengan lebih mudah dipahami, santun, dan menyentuh kebutuhan warga.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antarpribadi (KAP) yang digelar Dinas Kesehatan Kota Bontang selama dua hari di Hotel Equator Bontang, mulai Rabu (3/6/2026).
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan pelatihan ini dirancang untuk memperkuat keterampilan komunikasi tenaga kesehatan saat berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, perubahan perilaku menjadi salah satu kunci penting dalam upaya percepatan penurunan stunting. Karena itu, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memahami aspek medis, tetapi juga mampu membangun kedekatan dan kepercayaan dengan warga.
“Ketika pesan kesehatan disampaikan dengan cara yang tepat, peluang masyarakat untuk memahami dan menerapkannya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Program ini menjadi bagian dari implementasi Pilar Kedua Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.
Guna memperkuat kapasitas peserta, Dinkes Bontang menghadirkan narasumber dari Forum KAP Jakarta serta Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo yang memiliki pengalaman dalam penguatan komunikasi kesehatan masyarakat.
Pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Para peserta juga diterjunkan langsung ke lapangan untuk mempraktikkan pendekatan komunikasi kepada warga.
Mereka menyapa masyarakat melalui berbagai forum, mulai dari posyandu, kelas ibu hamil, Bina Keluarga Balita (BKB), hingga lingkungan sekolah.
Materi yang disampaikan berfokus pada penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pentingnya sanitasi lingkungan, serta berbagai langkah pencegahan stunting sejak dini.
Komitmen Pemerintah Kota Bontang terhadap penanganan stunting terlihat dari kehadiran langsung Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang membuka kegiatan tersebut.
Di hadapan peserta, Neni menegaskan bahwa pelatihan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
“Pelatihan ini harus menghasilkan dampak nyata sehingga target penurunan stunting di Kota Bontang dapat tercapai,” tegasnya.
Neni menilai komunikasi yang efektif menjadi salah satu fondasi penting dalam mengubah perilaku masyarakat. Karena itu, tenaga kesehatan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang aktif mengedukasi warga di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Karena itulah, setiap informasi kesehatan yang tersampaikan dengan baik, setiap ibu yang memahami pentingnya gizi, dan setiap keluarga yang menerapkan pola hidup sehat menjadi bagian dari langkah besar menyelamatkan generasi mendatang. [ADS]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















