KUTAI Timur (Kutim) tak ingin terus-menerus menggantungkan urusan perut warganya pada pasokan beras dari luar daerah. Sebuah langkah besar kini tengah dipacu di atas tanah Borneo, yakni mencetak ratusan hektare sawah baru demi mewujudkan mimpi swasembada pangan.
Setelah sukses membuka sekira 400 hektare lahan pada akhir tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Kutim kini kembali tancap gas. Targetnya tidak main-main: tambahan hampir 600 hektare sawah harus rampung digarap tahun ini.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian DTPHP Kutim, Bohari, mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan napas panjang dari target total 1.106 hektare. Meski sempat menemui kendala teknis dan urusan perizinan di lapangan, semangat untuk swasembada tidak surut.
“Hingga akhir tahun lalu sudah tercetak kurang lebih 400 hektare. Memang ada beberapa kendala teknis, maka kita lanjutkan kembali tahun ini,” ujar Bohari saat ditemui di Sangatta, Rabu (3/6/2026).
Kabar baiknya, kontrak pengerjaan sudah diteken dua pekan lalu. Saat ini, alat-alat berat mulai diterjunkan ke titik-titik potensial seperti Bengalon, Busang, Sandaran, Kaubun, Kombeng, hingga kawasan Susuk.
Sinergi APBN hingga Gandeng TNI
Mencetak sawah bukan perkara mudah. Selain kondisi topografi yang menantang, anggaran juga menjadi kunci. Program ini didukung penuh oleh dana APBN serta kolaborasi dana CSR perusahaan, dengan pendampingan langsung dari jajaran TNI agar pengerjaan tetap sasaran.
Bohari optimistis, jika lahan yang sudah dibuka langsung digarap oleh petani, kemandirian pangan Kutim bukan lagi sekadar angan. Apalagi, produktivitas lahan di Kutim tergolong menjanjikan.
Di wilayah Kaubun misalnya, hasil panen tercatat pernah mendekati angka 6 ton gabah per hektare. Sebuah angka yang membuktikan bahwa tanah Kutai Timur sangat ramah bagi tanaman padi.
Beras Lokal Mulai ‘Naik Kelas’
Kini, beras lokal hasil keringat petani Kaubun dan desa-desa lainnya mulai merambah pasar luar daerah. Namun, pemerintah sadar produksi melimpah saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan harga tetap stabil dan petani tidak rugi saat panen raya.
“Kami juga mendorong penguatan hilirisasi, termasuk rencana pembangunan gudang Bulog di Kutim. Tujuannya jelas, memberikan kepastian pasar bagi para petani kita,” tutup Bohari. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















