BONTANG, Pranala.co — Airnya jernih. Pasirnya putih. Angin laut berembus pelan, membawa aroma garam yang khas. Pulau Beras Basah sejak lama menjadi magnet wisata di Bontang—tempat orang-orang datang untuk sejenak melupakan hiruk pikuk kota.
Namun, keindahan itu tak selalu utuh. Di balik foto-foto yang tampak sempurna, ada cerita lain yang sempat mencuat. Tenda-tenda berdiri tanpa aturan. Sampah terserak di beberapa sudut. Penataan kawasan belum sepenuhnya rapi. Keindahan alam seolah berjalan sendiri, tanpa dukungan tata kelola yang memadai.
Pemerintah Kota Bontang tidak menutup mata. Kini, langkah baru disiapkan. Sebuah upaya pembenahan yang tak lagi setengah-setengah.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperbaiki sektor pariwisata, dimulai dari destinasi unggulan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah.
“Pemerintah berkomitmen memberikan pelayanan pariwisata yang baik. Tapi masyarakat juga harus sadar untuk saling mendukung,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Bagi Neni, persoalan di Beras Basah bukan hal baru. Ia bahkan menyoroti secara tegas keberadaan tenda-tenda yang dinilai mengganggu estetika kawasan, sekaligus menjadi sumber persoalan kebersihan.
“Tidak boleh lagi ada tenda-tenda seperti itu. Selain mengganggu pemandangan, sampahnya juga berserakan,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi penanda: pembenahan akan dilakukan dengan pendekatan yang lebih terstruktur.
Salah satu langkah utama adalah menyerahkan pengelolaan kawasan kepada pihak ketiga melalui mekanisme seleksi terbuka. Pemerintah membuka ruang bagi investor untuk menawarkan konsep terbaik—bukan sekadar hadir, tetapi membawa solusi.
“Pengelolaan harus melalui proses terbuka. Kita pilih yang paling siap dan memiliki konsep yang jelas, bukan penunjukan langsung,” jelas Neni.
Dengan skema ini, pengelolaan diharapkan lebih profesional. Penataan ruang diperbaiki. Fasilitas ditingkatkan. Sistem kebersihan ditata agar berkelanjutan.
Sebab bagi pemerintah, wisata bukan hanya soal pemandangan. Ia juga tentang pengalaman.
Secara administratif, Pulau Beras Basah berada di bawah kewenangan Pemprov Kaltim. Namun Pemkot Bontang tak tinggal diam. Mereka telah mengajukan permohonan agar dapat turut terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut.
Langkah ini menunjukkan satu hal: Bontang ingin mengambil peran lebih besar terhadap wajah wisatanya sendiri.
Tak hanya itu, keterlibatan berbagai pihak juga disiapkan, termasuk unsur maritim seperti Lanal, mengingat posisi pulau yang berada di wilayah perairan. Koordinasi lintas sektor dinilai penting agar pengelolaan berjalan optimal dan aman.
Di balik semua rencana itu, ada harapan yang lebih luas. Pariwisata bukan sekadar etalase keindahan, tetapi juga pintu masuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Namun Neni mengingatkan, ada syarat yang tak bisa ditawar. “Kalau kita menarik retribusi, maka wisatawan tidak boleh kecewa. Pariwisata harus memberikan pengalaman yang baik,” ujarnya.
Di Pulau Beras Basah, pekerjaan rumah itu kini bakal dikerjakan. Menata ulang yang sempat terabaikan. Membersihkan yang sempat dibiarkan.
Agar suatu hari nanti, ketika wisatawan kembali menginjakkan kaki di pasir putihnya, mereka tidak hanya melihat keindahan—tetapi juga merasakan kenyamanan yang layak dikenang. (ID/FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















