KABAR menggembirakan datang dari Taman Nasional Kutai (TNK), Kalimantan Timur (Kaltim). Kawasan konservasi seluas hampir 194 ribu hektare itu masih menjadi rumah bagi sedikitnya 324 spesies fauna.
Data tersebut menjadi penanda bahwa salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Kalimantan masih mampu menjaga kehidupan berbagai satwa, termasuk yang berstatus terancam punah.
Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Syaiful Bahri, mengungkapkan hingga saat ini TNK mencatat keberadaan 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, dan 38 jenis fauna goa.
“Keanekaragaman fauna di Taman Nasional Kutai sebanyak 324 spesies, terdiri atas 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, dan 38 jenis fauna goa,” ujar Syaiful Bahri saat dihubungi dari Sangatta, Jumat (12/6/2026).
Di antara ratusan spesies tersebut, terdapat tiga satwa endemik yang menjadi perhatian utama pengelola kawasan. Ketiganya adalah orangutan Kalimantan timur laut, bekantan, dan banteng liar Kalimantan.
Ketiga satwa itu menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan habitat, aktivitas manusia, hingga fragmentasi kawasan hutan menjadi ancaman yang terus mengintai keberlangsungan populasinya.
Karena itu, Balai TNK terus memperkuat sistem pemantauan dan perlindungan satwa dengan memanfaatkan teknologi modern.
Salah satu temuan paling menarik datang dari penggunaan kamera jebak dan drone thermal yang kini dioperasikan di sejumlah titik kawasan.
Teknologi tersebut berhasil mendokumentasikan keberadaan berbagai satwa yang selama ini sulit dipantau secara langsung.
Yang paling mengejutkan, kamera jebak kembali merekam kemunculan macan dahan. Satwa pemangsa khas hutan Kalimantan itu sebelumnya sempat diduga sudah tidak lagi ditemukan di kawasan TN Kutai.
Temuan tersebut menjadi kabar penting bagi dunia konservasi. Sebab, keberadaan predator puncak seperti macan dahan sering menjadi indikator bahwa ekosistem hutan masih bekerja dengan baik.
Tak hanya itu, kamera pemantau juga berhasil merekam burung tokhtor Kalimantan. Keberadaan burung kuau yang sebelumnya ditemukan di wilayah Rantau Pulung, Kutai Timur, juga kembali terkonfirmasi.
Upaya konservasi tidak berhenti pada pemantauan satwa. Balai TNK juga menggandeng berbagai organisasi non-pemerintah untuk memperkuat program perlindungan satwa liar.
Salah satunya melalui kerja sama dengan Yayasan Jejak Pulang di Samboja. Kolaborasi ini difokuskan pada kajian kelayakan habitat yang akan digunakan sebagai lokasi pelepasliaran orangutan yang telah siap kembali ke alam.
Kerja sama lain dilakukan bersama Yayasan Orangutan Indonesia untuk mendukung perlindungan populasi banteng Kalimantan yang masih bertahan di kawasan taman nasional.
Menurut Syaiful, menjaga kawasan konservasi seluas TN Kutai tidak mungkin dilakukan hanya oleh petugas taman nasional.
Peran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan menjadi faktor penentu keberhasilan pelestarian hutan dan satwa liar.
Karena itu, Balai TNK mendorong keterlibatan warga melalui program pariwisata minat khusus yang dikembangkan bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Program tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian kawasan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui skema Perhutanan Sosial.
Dengan luas mencapai 193.753,42 hektare dan memiliki tujuh tipe ekosistem, TNK tetap menjadi salah satu benteng penting keanekaragaman hayati Indonesia. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















