BONTANG, Pranala.co – Bayangkan satu aplikasi di genggaman. Tidak perlu lagi membuka banyak platform. Tidak perlu mengingat berbagai akun. Semua layanan publik—cukup dalam satu pintu.
Gagasan itulah yang kini sedang disiapkan Pemerintah Kota Bontang. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), sebuah terobosan digital tengah dirancang: super apps yang mengintegrasikan berbagai layanan publik dalam satu aplikasi.
Bagi masyarakat, konsep ini terdengar sederhana. Tapi di baliknya, ada kerja besar yang sedang disusun pelan-pelan. Kepala Diskominfo Bontang, Andi Hasanuddin Akmal, menjelaskan bahwa inti dari super apps ini adalah keterhubungan antar sistem.
“Intinya kita ingin semua aplikasi milik perangkat daerah bisa saling terhubung. Istilahnya interoperabilitas. Jadi cukup satu aplikasi, tapi fungsinya banyak,” ujarnya.
Selama ini, layanan digital pemerintah sering tersebar di berbagai aplikasi. Satu layanan, satu aplikasi. Bagi sebagian warga, ini justru menyulitkan.
Super apps mencoba mengubah itu. Bukan dengan menghapus sistem lama, melainkan menghubungkannya.
Di sinilah peran teknologi bernama Application Programming Interface (API). Ia menjadi semacam “jembatan digital” yang memungkinkan aplikasi berbeda saling berbicara.
Dengan sistem ini, setiap perangkat daerah tetap memegang kendali atas data dan layanannya. Tidak ada yang diambil alih. Tidak ada yang diubah secara drastis.
“Dashboard nanti ada di Diskominfo, tapi data tetap di perangkat daerah. Jadi tidak mengganggu proses bisnis yang sudah ada, justru memperkuat,” jelas Andi.
Proses menuju satu aplikasi itu kini sudah memasuki tahap integrasi. Dari tujuh perangkat daerah yang ditargetkan bergabung, empat di antaranya telah lebih dulu terkoneksi.
Tiga lainnya menyusul. Masih ada pembahasan teknis yang harus diselesaikan. Namun pekerjaan belum selesai. Ada satu tahap yang tak kalah penting—dan sering kali memakan waktu—yakni publikasi aplikasi ke Google Play Store.
Setelah sistem siap, aplikasi harus melalui proses pendaftaran dan verifikasi. Waktunya tidak bisa dipastikan. Tergantung antrean.
“Kalau proses bridging selesai April, kita akan langsung daftarkan ke Play Store. Biasanya butuh waktu karena antrean cukup banyak,” katanya.
Meski begitu, optimisme tetap dijaga. Target peluncuran dipasang: paling lambat Juli 2026. Jika semua berjalan sesuai rencana, Bontang akan memasuki babak baru dalam pelayanan publik berbasis digital.
Bagi masyarakat, manfaatnya mungkin terasa sederhana: layanan lebih cepat, lebih praktis, dan tidak lagi tersebar di banyak aplikasi. (ADS/FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















