KEMERDEKAAN tidak pernah lahir dari kebungkaman. Ia lahir dari keberanian untuk bersuara, keberanian untuk bergerak, keberanian untuk membuat perubahan, dan keberanian untuk melawan segala manifestasi ketidakadilan dan keterpurukan.
Namun, 81 tahun setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, perlukah kita bertanya kepada diri sendiri: Dimana gerakan pemuda hari ini?
Ketika ibu pertiwi dihadapkan dengan segala dinamika yang begitu kompleks seperti ketimpangan ekonomi, krisis kepercayaan, degradasi lingkungan, hingga berbagai persoalan sosial, kita justru melihat organisasi kepemudaan dan organisasi pergerakan mengalami stagnansi.
Bahkan cukup vulgar bila dikatakan pergerakan pemuda hari ini mengalami degradasi. Organisasi yang seharusnya menjadi rahim untuk melahirkan berbagai gagasan, justru sibuk dengan dinamika internalnya sendiri.
Organisasi yang seharusnya hadir dan berperan besar sebagai penyambung lidah rakyat, terkadang justru semakin jauh dari denyut persoalan rakyat. Dan organisasi yang seharusnya menjadi suara kaum muda dan kaum terpelajar, kini terlalu sering memilih untuk bungkam.
Ini bukan persoalan siapa yang salah, melainkan keadaan ini merupakan alarm darurat bagi kita semua. Sudah waktunya kita melakukan introspeksi dan resiliensi.
Gerakan pemuda tidak boleh kehilangan keberanian untuk menggaungkan kritik. Dan lebih dari itu, gerakan pemuda juga tidak boleh kehilangan kemampuan untuk menawarkan solusi.
Kita tidak membutuhkan organisasi yang hanya aktif ketika ada momentum, namun kita membutuhkan organisasi yang hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Kita tidak membutuhkan pemuda yang hanya pandai mengkritik dari belakang layar, namun kita membutuhkan pemuda yang berani turun, berdiskusi, membangun gagasan, dan mengambil peran penuh dalam bertanggung jawab.
Karena bagi saya, kemerdekaan bukan alasan bagi kita untuk berhenti bergerak. Kemerdekaan justru memberikan kita tanggung jawab untuk terus memperjuangkannya.
Jika dahulu para pemuda berjuang melawan penindasan dan penjajahan, maka hari ini kita harus berjuang, melawan kebungkaman, melawan apatisme, dan melawan degradasi gerakan pemuda yang membuat organisasi kehilangan fungsi sosialnya.
Organisasi harus kembali menjadi alat perjuangan. Tetapi perjuangan tidak akan menjadi besar jika kita terus berjalan sendiri-sendiri. Disinilah kolaborasi menjadi hal yang vital.
Tidak mungkin kita membangun Bontang hanya dengan satu organisasi, tidak mungkin membangun pemuda hanya dengan satu kelompok, dan tidak mungkin menyelesaikan persoalan bangsa hanya dengan satu gagasan. Kita membutuhkan kolaborasi.
Kolaborasi lintas organisasi, kolaborasi lintas latar belakang, kolaborasi lintas gagasan. Kita boleh berbeda ruang proses, kita boleh berbeda cara pandang, kita boleh berbeda tempat berkiprah.
Tetapi perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling berseberangan. Perbedaan merupakan kekayaan, kolaborasi merupakan kekuatan.
Saya percaya Kota Bontang memiliki banyak pemuda dengan semangat, gagasan, dan keberanian untuk membuat pergerakan. Yang kita butuhkan hari ini adalah sebuah ruang bersama untuk menyatukan semuanya. Oleh karena itu, pada momentum kemerdekaan ini, mari kita rapatkan barisan.
Mari kita tinggalkan ego kelompok, membuka ruang dialog, membangun kolaborasi, saling bahu membahu, mari kita satukan gagasan untuk membangun gerakan pemuda yang lebih hidup, kritis, progresif, dan berdampak.
Karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sejarah juga ditulis oleh mereka yang berani bergerak ketika yang lain memilih bungkam. Maka dari Bontang mari kita hidupkan kembali semangat pergerakan itu.
Mari bersama kita buktikan bahwa organisasi kepemudaan bukan sekedar tempat berhimpun, tetapi ruang untuk mengabdi, berpikir, bergerak, dan saling memberikan manfaat. Mari kita bangun gerakan yang tidak terjebak pada ego sektoral. (*)















