DUA pelajar asal Kalimantan Timur, Julita Rista Lestari dan Gus Luthfy Azka Nararya, resmi menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat 2026. Keduanya dikukuhkan di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Julita merupakan siswi SMA Negeri 1 Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sedangkan Gus Luthfy merupakan siswa SMA Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP) Bontang.
Keduanya menjadi dua wakil Kaltim di antara 76 Paskibraka tingkat pusat yang berasal dari 38 provinsi. Dalam prosesi pengukuhan, Julita dipercaya memimpin jalannya upacara sekaligus membacakan ikrar bersama anggota lainnya.
Pengukuhan tersebut dipimpin Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hadir pula Mensesneg Prasetyo Hadi, Menko Polkam Djamari Chaniago, Mendiktisaintek Brian Yuliarto, serta Seskab Teddy Indra Wijaya.
Julita, Putri Tabang yang Memimpin Ikrar
Nama Julita menjadi sorotan dalam prosesi pengukuhan. Dengan tinggi badan 174 sentimeter, siswi SMA Negeri 1 Tabang itu berdiri membawa bendera Merah Putih di dada kirinya saat mengikuti pembacaan ikrar.
Julita memimpin 75 anggota Paskibraka lainnya dalam prosesi tersebut. Ia menirukan ikrar yang dibacakan Kepala BPIP Yudian Wahyudi dengan lantang, diikuti anggota Paskibraka tingkat pusat lainnya.
Bagi Julita, perjalanan menuju tingkat nasional bukan proses singkat.
Ia lebih dulu mengikuti tahapan seleksi di daerah, termasuk tes wawasan kebangsaan dan tes umum berbasis komputer. Motivasi Julita juga memiliki cerita keluarga.
“Saya ingin melanjutkan apa yang pernah dicapai orang tua saya. Selain itu, saya juga merasa memiliki potensi dari segi fisik,” ungkap Julita.
Kedua orang tua Julita, Tesalonika dan Maria, pernah menjadi anggota Paskibraka di tingkat kecamatan. Jejak tersebut ikut mendorong Julita untuk mencoba peruntungan hingga tingkat nasional.
Tiga Pekan Bersiap di Tenggarong
Sebelum berangkat ke Jakarta, Julita menjalani persiapan selama tiga pekan di Tenggarong.
Latihannya tidak hanya berkutat pada baris-berbaris. Ia mengikuti rangkaian pembinaan yang mencakup tari, bahasa Inggris, pengetahuan umum, pembentukan mental hingga latihan fisik.
Untuk peserta dari Tabang, kebutuhan keberangkatan juga mendapat fasilitasi dari pihak kecamatan.
“Kami difasilitasi dua mobil untuk tujuh orang, uang saku, serta tempat tinggal sementara di rumah staf kecamatan,” jelas Julita.
Perjalanan dari Tabang menuju panggung nasional kemudian membawa Julita bertemu dengan jajaran pemerintah daerah.
Ia sempat menerima dukungan langsung dari Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri saat berkunjung ke rumah dinas.
“Sekali lagi terima kasih banyak pak yang telah memberikan suport dan dukungannya kepada saya, mudah mudahaan saya lolos Paskibraka Nasional,” ucap Julita saat itu.
Kini, harapan tersebut berbuah menjadi kenyataan.
Gus Luthfy dan Janji Sejak SMP
Cerita berbeda datang dari Bontang.
Bagi Gus Luthfy Azka Nararya, seragam Paskibraka bukan sekadar pakaian untuk menjalankan tugas kenegaraan. Seragam itu menjadi simbol dari target yang sudah ia tanamkan sejak duduk di bangku SMP.
“Dari awal saya sudah optimistis. Saya harus sampai tingkat nasional, jangan hanya berhenti di level kota,” ujar pemuda yang akrab disapa Lutfi tersebut.
Tekad itu tumbuh setelah Lutfi melihat kakak tingkat di sekolahnya berhasil menembus Paskibraka tingkat pusat pada 2022.
Sejak saat itu, ia mulai mencari tahu proses seleksi, bertanya kepada orang-orang yang dianggap memahami Paskibraka, hingga mempersiapkan fisiknya.
Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dari perjalanan Lutfi.
Ibunya, Nur Hidayah Jalil, merupakan mantan Paskibraka Bontang 2008. Sang ayah, Ahmad Fauzi, juga memberikan dukungan penuh terhadap pilihan Lutfi.
Lingkungan keluarga tersebut membuat disiplin bukan sesuatu yang asing bagi Lutfi. (*)















