MASIH sedih atas meninggalnya pelukis Yogya, mas Nasirun. Saya bukan teman dekatnya. Juga bukan siapa-siapa. Hanya seorang pensiunan yang menghargai kesenian, terutama sastra dan lukisan. Tapi setidaknya sudah mengenalnya dalam suatu proyek kebudayaan di perusahaan, dolan ke rumahnya dan ditunjukin serta diceritakan hampir semua koleksi lukisannya. Tulisan berkunjung 5 jam ke rumah dan studionya pernah di-publish di Nongkrong.co tahun 2022.
Meski tak bisa melayat karena tak di Yogya, saya mengikuti foto, video di medsos atas meninggalnya mas Nasirun di tempat penguburan dan di rumah duka, kompleks Bayeman, Jalan Wates, Kasihan, Bantul. Banyak pelayat dan sahabat yang merasa kehilangan karena dia memang orang baik, rendah hati, humoris dan menghargai orang lain. Sahabatnya pun bukan dari kalangan seniman tetapi dari berbagai profesi dan strata. Dan dia enak saja bergaul, humor, cengengesan dan menghargai lawan bicara
Belum lama lihat videonya memberi sambutan spontan khas mas Nasirun dengan slang ngapak-ngapak pada pamerannya di Pendopo Art Space, Arundhati bersama pematung Dumadi. Juga baru beberapa hari, putri mbarepnya, Ima Bunga Insan Sani, kirim WA untuk dukungan adik ragilnya Nawarna Ratna Mutu Manikan untuk sebuah ajang keputrian. Saya pernah bertemu dengannya yg dikenalkan mas Nasirun pada acara Artjog beberapa tahun lalu. Makanya kaget bukan kepalang, pagi-pagi pada Sabtu 1 Agustus 2026 membaca kabar WA dari mas Jumaldi Alfi.
Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Turut berduka cita mendalam tentunya. Semoga diterima semua amal ibadahnya, aamiin. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fu'anhu.
Masih sedih juga mengingat beliau. Sudah saya tulis narasi di FB, lalu dikirimi seorang teman penulis Yogya, Satmoko yang menulis tentang beliau, ingatan pada beliau datang bertubi-tubi meski kenal tak lama dan saya bukan siapa-siapa baginya tetapi saya terkesan karena beliau menghargai lawan orabg yang ditemuinya.
Waktu berkunjung ke rumahnya diajak keliling dan diceritakan semua koleksinya. Dia hafal lukisan siapa, tahun berapa dan bagaimana riwayatnya. Semacam katalog berjalan.

Dikenalkan istrinya, mbak Supartilah dari Bantul dan disuguh minum dan snacknya. Bercerita anak lelakinya Yudhistira yang kuliah di bidang restorasi lukisan PTS di Yogya. Cerita hobi lainnya menanam tanaman langka dari berbagai tempat. Halaman rumahnya penuh tanaman. Sempat saya bawakan tanaman kadaka, sarang burung dari Bontang dan dia menyambut senang.
Ditawari makan siang dan menginap. Waktu pamitan mau pulang ditahan-tahan. Tapi saya tahu diri, kalau siang infonya beliau istirahat siang.
Pulangnya masih diberi 2 sketsa lukisan kecil untuk 2 anak saya, pecinta lukisan yang saya ajak ajak dan untuk saya lukisan kertas Umi Dachlan, pelukis dan dosen seni rupa ITB. Saya sudah dikasih 3-4 sketsa olehnya waktu acara kebudayaan di Bontang tahun 2022 dan waktu mengobrol santai di rumah mas Butet K di Bantul.
Saya harus menuliskan kenangan-kenangan manis pada orang baik ini yang kebetulan pelukis dan dikenal dengan nama Nasirun.
Pelukis dan Kolektor
Dia sangat mencintai dunia melukis dan menghargai karya para pelukis seniornya. Ke mana-mana tangan nya tak berhenti berkarya. Sambil ngobrol cekakaan, dia tetap mencoret. Bahkan dia tak mau pegang HP dengan alasan mengganggu melukis.
Dia produktif berkarya. Lukisan sketsa format kecil banyak sekali dan kadang dibagi gratis pada relasinya. Dia melukisnya hampir tiap malam.

Bukan hanya kanvas dan kertas, media apa saja dilukis. Lantai dan tangga di rumahnya, meja, mobil, payung, gitar, topi bahkan kelapa kering bergandulan di salah satu plafon rumahnya, penuh dengan coretan lukisan. Tube-tube dan kuwas bekas lukisan itu tidak dibuang tapi dikoleksinya. Disusun rapi.
Rumahnya yg berjejeran di komplek penuh barang. Dia koleksi apa saja yang menarik. Dia suka dunia wayang, dia koleksi wayang kulit, wayang golek. Dia buat wayang sendiri ala Nasirun dengan profil buto atau burung. Koleksi topi, kaca mata, manekin. Dan terutama koleksi lukisan.
Mungkin dia pelukis sekaligus kolektor lukisan paling banyak di Indonesia. Bahkan mungkin Asia Tenggara? Waktu saya sebut 5000 lukisan ada? Dia gak enak menyebut jumlah.
Dia punya lukisan Affandi, S Soedjoyono, Hendra, Rusli, Amri Yahya, Danarto. Dia simpan lukisan Amang Rahman, Nazhar. Lukisannya Rendra juga ada. Yang banyak lukisan dari para seniornya dan dosennya di Yogya, koleksi Sanggar Bambu.
Waktu era covid 19, infonya dia bisa melukis 3 lukisan dalam sehari, jadi selama setahun bisa sekitar 900 lukisan dibuatnya.
Dan akhirnya tugasnya di dunia sudah selesai dan harus menghadap yang Maha Kuasa. Meninggalkan kenangan, karya, koleksi, senyum khas ikoniknya yang setengah ngapak. Selamat jalan Mas Nasirun. Semua akhirnya akan kembali padaNya. Tinggal menyiapkan bekal dan meninggalkan karya yang ada. (Beji, 2 Agustus 2026).















