Siswa MTs Kerja Kuli Bangunan demi Bisa Beli Gawai untuk Belajar Daring

Bocah bekerja jadi kuli bangunan demi beli hp android. Foto: kumparan

SISTEM belajar daring alias online masih meninggalkan sejumlah masalah bagi murid dan orang tua murid. Dari sinyal, kuota, hingga alat penunjang seperti gawai atau handphone android, menjadi masalah utamanya.

Seperti yang dialami Catur Ferianto, siswa kelas VII MTs Ya Robi asal Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Catur lebih memilih bekerja sebagai kuli bangunan daripada duduk dan belajar secara daring di rumah.

Catur bukan malas sekolah. Dia bekerja sebagai kuli bangunan demi membeli ponsel android untuk mendukung sistem pembelajaran di sekolahnya.

Tampak keringatnya masih mengucur saat beristirahat dari pekerjaannya itu. Hasil upahnya menjadi kuli bangunan, rencananya akan digunakan untuk membeli handphone android agar tidak meminjam milik saudaranya.

“Selama ini untuk mengerjakan tugas saya selalu meminjam miliknya kakak,” kata Catur kepada wartawan, Sabtu (9/08).

Catur mengatakan, tugas sekolahnya selalu terlambat dikerjakan karena kakaknya yang dipinjami handphone pulang kerja setelah pukul 21.00 WIB.

Rumah Catur berada di Desa Karangrejo, Grobogan masih beralaskan lantai dan tembok rumahnya masih bata merah. Atap rumahnya pun banyak bocor ketika hujan.

Suwarsih, orang tua Catur, mengaku tidak mampu membelikan handphone sebagai sarana untuk sekolah.

“Selama ini kan sejak ada corona belajarnya di rumah. Itu perlu HP, kalau mengerjakan tugas itu si Catur pinjam milik mbaknya,” terang Suwarsih.

Sebenarnya dia tak sampai hati mengizinkan anaknya bekerja sebagai kuli bangunan. Namun karena keinginan dan tekad yang keras dari sang anak, akhirnya izin untuk bekerja pun diberikan.

Meski postur tubuh Catur terbilang kurus kecil, bukan menjadi alasan mengurangi jam kerjanya. Suwarsih menyebut, Catur tetap bekerja penuh tanggung jawab dan setiap harinya memperoleh upah sebesar Rp 50 ribu.

Sementara itu, Marno selaku pemilik rumah tempat Catur bekerja mengatakan, Catur merupakan sosok anak baik, rajin, dan cekatan. Marno mengaku, awalnya menolak Catur untuk bekerja karena masih kecil.

Karena alasan keinginan Catur bekerja untuk membeli android, akhirnya dia mengizinkannya untuk bekerja sebagai kuli.

“Tugasnya itu mengayak pasir, mengaduk semen, membersihkan sisa-sisa material. Anaknya tergolong rajin,” katanya.

Catur pun mengutarakan keinginannya tersebut kepada Marno, sebenarnya dia ingin seperti anak-anak seusianya. Yaitu belajar dan bermain. Namun karena keadaan, sehingga dirinya terpaksa bekerja.

“Ya inginnya seperti teman-teman, bermain dan belajar di rumah,” kata Marno. (Ran)

More Stories
Juni, Ekspor Kaltim Turun 7,06 Persen