Samarinda Alokasikan Rp350 Miliar untuk Covid-19, Baru Terealisasi Rp8,7 Miliar

Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin. (Dok/Humas)

PEMERINTAH Kota Samarinda membeber pengunaan anggaran Covid-19. Dari alokasi anggaran sebesar Rp350 miliar, dana ini alokasi dari Belanja Tidak Terduga (BTT) dan per 13 Mei 2020 telah terealisasi 2,48 persen atau sekira Rp8,7 miliar.

Ini disampaikan Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin dalam rapat koordinasi Pendampingan Penanganan Covid-19 di Provinsi Kaltim melalui Video Conference, Rabu 13 Mei 2020.

Sugeng berujar, Pemkot Samarinda mencoba me-refocusing kegiatan-kegiatan yang harus dialihkan kepada kegiatan penanganan Covid-19. Lanjut dia, untuk pembiayaan penanganan Covid dibagi menjadi 3 bidang; kesehatan, penanganan dampak ekonomi, dan belanja Jaring Pengaman Sosial.

“Sedangkan untuk realisasinya sampai dengan sekarang baru kurang lebih 2.48 persen,” ujar Sugeng.

Skenario yang akan dilakukan adalah ketika terjadi outbreak di Kota Samarinda ada 3 skenario yang diterapkan dalam penanganan Covid-19 ini yaitu skenario awal, lanjutan lalu outbreak. Dijelaskan pula bahwa dana yang ada tersebut digunakan untuk beberapa program yaitu di hulu dan hilir.

“Untuk hulunya yaitu kegiatan bagaimana kami berusaha sebanyak mungkin mendapatkan ODP, sehingga pandemi ini bisa lekas dilacak sebanyak mungkin di Kota Samarinda,” ujar Sugeng seperti dirilis Humas Pemkot Samarinda.

Pemkot Samarinda juga mensosialisasikan imbauan Pemerintah seperti social distancing, psychical distancing dan lainnya. Antara lain dengan membentuk jalur khusus Call Centre 112 untuk mempermudah masyarakat Samarinda melaporkan diri kalau ada indikasi Covid-19.

“Kami juga menambah tugas tupoksi untuk Kampung KB agar aktif dalam kegiatan penanganan Covid-19 ini,” jelasnya.

Sedangkan di hilirnya menurut Sugeng mengadakan kegiatan memastikan jumlah tenaga kesehatan betul-betul terpenuhi, memastikan jumlah ODP ini bisa terpenuhi, dan memberi semangat kepada tenaga medis supaya terus terpompa.

“Selain itu di hilir kami juga ada program dampak dari ekonomi yaitu dengan program Behambinan, belanja dengan aplikasi. Ini bagaimana meningkatkan upaya sektor ekonomi yang terbilang lemah karena banyak pelaku usaha yang tidak bisa beraktifitas karena dampak Covid-19,” urai dia.

Mendukung Behambinan ini lanjut Sugeng, ASN di Pemkot Samarinda diwajibkan untuk belanja lewat program Behambinan ini. Karena bisa sedikit membantu penjualnya, juga UMKM yang terdampak Covid-19. Untuk pasar-pasar tradisional Pemkot Samarinda juga mendorong untuk berjualan secara online. (jun/ks)

More Stories
DBH Dipangkas 50 Persen, APBD Bontang Bisa Merosot Rp900 Miliar