KEKERINGAN dan minimnya curah hujan dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Dalam kondisi tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
Doa meminta hujan pernah dipanjatkan Rasulullah SAW ketika Madinah mengalami kekeringan. Dalam sebuah peristiwa yang diriwayatkan Anas bin Malik, hujan kemudian turun deras hingga berlangsung selama sekitar sepekan.
Namun, ketika hujan justru membuat masyarakat kesulitan, Rasulullah SAW kembali berdoa agar hujan dialihkan dari wilayah Madinah.
Salah satu doa meminta hujan yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-'Ash berbunyi:
Allahummasqi 'ibaadaka wa bahaa-imaka wansyur rohmataka wa ahyi baladakal mayyita.
Artinya:
"Ya Allah, siramlah hamba-hamba-Mu, binatang-binatang ternak-Mu, tebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah kembali bumi-Mu yang mati."
Doa tersebut berisi permohonan agar Allah SWT menurunkan air hujan sebagai rahmat. Bukan hanya manusia, tetapi hewan ternak dan bumi juga disebut dalam doa tersebut.
Riwayat dengan lafaz yang sedikit berbeda juga disebut dalam Shahih Abu Daud, sebagaimana dikutip dari laman Al-Durar Al-Saniyyah dalam materi yang menjadi rujukan.
Rasulullah SAW juga mengajarkan umat Islam untuk memohon hujan melalui shalat istisqa, yakni shalat sunnah yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa ketika kekeringan terjadi, seorang Muslim tidak hanya menghadapi persoalan alam secara lahiriah, tetapi juga dianjurkan memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Kisah Rasulullah SAW Meminta Hujan di Madinah
Kisah doa meminta hujan Rasulullah SAW yang paling dikenal terjadi ketika beliau sedang menyampaikan khutbah Jumat di Madinah.
Dalam riwayat Anas, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan meminta beliau memohon kepada Allah SWT agar hujan diturunkan. Kekeringan telah membuat kondisi masyarakat menjadi sulit.
Rasulullah SAW kemudian memandang ke arah langit. Saat itu, menurut riwayat tersebut, tidak terlihat awan.
Beliau lalu berdoa kepada Allah SWT agar hujan diturunkan. Tidak lama kemudian, awan berkumpul dan hujan turun dengan deras hingga air mengalir di parit-parit Kota Madinah.
Hujan tersebut tidak hanya turun sesaat. Riwayat itu menyebut hujan berlangsung hingga Jumat berikutnya.
Pada Jumat berikutnya, ketika Rasulullah SAW kembali menyampaikan khutbah, seorang laki-laki atau orang lain berdiri dan meminta beliau berdoa agar hujan dihentikan.
Alasannya, hujan yang terus turun telah membuat mereka kesulitan hingga khawatir tenggelam.
Berbeda dengan permintaan pertama, kali ini Rasulullah SAW memohon agar hujan tidak lagi turun tepat di atas Kota Madinah.
Beliau berdoa:
"Ya Allah, di sekitar kami, jangan di atas kami."
Dalam riwayat tersebut, doa itu diucapkan Rasulullah SAW sebanyak dua atau tiga kali.
Setelah itu, awan terkuak dari Kota Madinah ke sebelah kanan dan kiri. Hujan kemudian turun di wilayah sekitar Madinah, sedangkan kota tersebut tidak lagi diguyur hujan.
Peristiwa itu diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim melalui Anas bin Malik.
Doa Rasulullah SAW tersebut menunjukkan bahwa permohonan kepada Allah SWT tidak berhenti pada meminta turunnya hujan.
Ketika hujan sudah turun secara berlebihan dan menimbulkan kesulitan, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar hujan dialihkan ke wilayah yang membutuhkan.
Dalam riwayat tersebut, beliau memohon: "Ya Allah, di sekitar kami, jangan di atas kami."
Doa itu kemudian diikuti perubahan kondisi cuaca di sekitar Madinah sebagaimana disebut dalam riwayat. (*)















