Pranala.co, BONTANG – Harapan petani rumput laut di kawasan Tihi-Tihi, Kota Bontang sedang diuji. Komoditas laut yang dikenal berkualitas terbaik di Kalimantan Timur (Kaltim) itu kini menghadapi ancaman serius: tumpahan minyak di perairan.
Padahal, dari laut Tihi-Tihi inilah rumput laut Bontang menembus pasar internasional. Setiap bulan, dua kontainer berkapasitas 15 ton dikirim ke India. Namun tiga hari terakhir, lapisan minyak hitam terlihat mengambang di permukaan laut.
Bagi petani, noda hitam itu bukan sekadar pemandangan buruk. Dampaknya bisa membuat gagal panen hingga 80 persen.
“Kalau rumput laut kena minyak, daunnya bisa terlunasi, cahaya matahari terhalang, lalu mati. Panen pun tidak laku karena kualitas turun,” kata Ardis, perwakilan PT Borneo Ocean Nauly, Jumat (29/8/2025).
Rumput laut Tihi-Tihi bukan sekadar komoditas lokal. Ia adalah sumber penghidupan ratusan keluarga. Rencana penambahan 100 pondasi budidaya bahkan digadang mampu membuka lahan hingga 50 hektare.
Namun semua itu bergantung pada laut yang bersih. Sekali saja tumpahan minyak masuk ke area budidaya, kerugian bisa berlipat: gagal panen, hilangnya peluang ekspor, hingga rusaknya ekosistem laut.
“Harapan kami jangan sampai terulang. Rumput laut ini tulang punggung ekonomi warga Tihi-Tihi,” ujar Ardis.
Dugaan Pencemaran Bukan Pertama
Fenomena tumpahan minyak di kawasan ini sebenarnya bukan baru. Menurut laporan petani, lapisan minyak kerap muncul meski tak selalu deras. Sampel sudah pernah diambil untuk uji laboratorium, tetapi hingga kini belum jelas siapa penyebabnya.
“Di sekitar sini memang banyak industri. Jadi belum bisa dipastikan dari mana asalnya,” timpal Sani, perwakilan lain dari PT Borneo Ocean Nauly.
Lebih memprihatinkan, beberapa perusahaan di sekitar perairan disebut tidak menyiapkan oil boom. Padahal, alat sederhana itu bisa mencegah minyak menyebar ke area budidaya.
“Kalau ada oil boom, minyak bisa diblokir sebelum sampai ke tanaman,” jelas Ardis.
Budidaya rumput laut memiliki aturan ketat. Minimal butuh 40–45 hari masa tanam agar kandungan gizi mencapai puncak. Jika dipanen lebih cepat, nilai jualnya turun drastis.
“Itulah kenapa 45 hari sangat krusial. Bayangkan kalau di tengah masa tanam terkena limbah minyak,” ungkap Sani.
Selain Tihi-Tihi, daerah lain seperti Lok Tunggul dan Melahing juga punya potensi serupa. Bedanya, Melahing lebih condong ke pariwisata. Tihi-Tihi justru sepenuhnya menggantungkan hidup pada rumput laut. (fr)














