Sangatta, PRANALA.CO – Pagi itu, halaman kantor Bea Cukai Sangatta mendadak ramai. Bukan karena ada razia. Bukan pula karena kedatangan artis ibukota. Tapi karena ada “pesta bakar-bakaran” skala besar. Bukan bakar ayam. Bukan juga jagung. Tapi rokok—dan botol-botol minuman keras. Semuanya ilegal. Semuanya hasil tangkapan tahun 2024.
Kepala Kantor Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Sangatta, Wahyu Anggara, memimpin langsung pemusnahan itu, Kamis (24/4/2025). Ia berdiri di depan tumpukan kardus berisi rokok tanpa pita cukai. Beberapa bahkan memakai pita cukai palsu. Ada juga yang bekas.
Total, ada 769.040 batang rokok ilegal yang dimusnahkan. Wahyu menyebutkan, semua itu hasil dari 164 kali penindakan selama setahun terakhir. “Barang-barang ini sudah resmi jadi milik negara. Tapi karena nilainya bukan dalam bentuk emas atau berlian, maka kami musnahkan,” katanya.
Cara memusnahkannya pun sederhana tapi simbolis: dibakar. Di tempat pembakaran khusus yang mereka siapkan. Api menyala, asap mengepul. Bau tembakau terbakar menguar ke udara Sangatta.
Tapi bukan hanya rokok yang jadi korban pemusnahan. Ada juga 242 botol minuman mengandung etil alkohol—jenis golongan C. Itu berarti kadar alkoholnya di atas 20 persen. Modusnya sama: tidak dilekati pita cukai.
Nilai seluruh barang yang dibakar pagi itu mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Tepatnya Rp 1.078.314.800. Kerugian negara? Sekira Rp 753 juta.
“Kami juga menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp 168.361.000 kepada distributornya. Sudah disetor ke kas negara,” jelas Wahyu.
Ia tidak sekadar menjelaskan angka. Ia juga menegaskan pesan moralnya. Bahwa masyarakat harus ikut serta melawan peredaran Barang Kena Cukai (BKC) ilegal. Caranya? Jangan beli, jangan jual, jangan produksi, dan jangan edarkan.
Sebagian orang mungkin menganggap ini urusan kecil. Tapi dalam dunia cukai, satu batang rokok ilegal bisa jadi permulaan kerugian besar bagi negara. Apalagi kalau jutaan batangnya bisa lolos. Maka pagi itu, yang dibakar bukan cuma rokok. Tapi juga harapan para penyelundup yang sempat bermimpi akan lolos dari hukum.
Dan, siapa tahu, dengan asap itu juga ikut lenyap aroma busuk ketidakadilan ekonomi—yang selalu menyusup dari celah-celah bisnis gelap. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami












