Realisasi Investasi di Kaltim Merosot Tajam selama Pandemi Corona

Ilustrasi tambang batu bara (Unsplash/Dominik Vanyi)

KINERJA investasi Kaltim pada triwulan pertama 2020 alami kontraksi sebesar 49,8 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu  (year on year/yoy). Sebelumnya investasi bisa mencapai Rp35,62 triliun pada 2019. Namun, pada tahun ini hanya bisa Rp4,64 triliun saja. Salah satu penyebabnya adalah gempuran pandemik virus corona atau COVID-19.

“Sebagian besar para pemegang modal memang menahan diri untuk berinvestasi,” ujar Muhammad Sabani, sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim saat dikonfirmasi pada Jumat (21/8) petang.

Sabani bilang, jika tak ada wabah maka investasi bisa terdongkrak maksimal. Sebab perjalanan tak dibatasi, para investor pun bisa bepergian. Meski demikian menukil data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim, pertambangan masih mendominasi penanaman modal asing (PMA) di Kaltim. Pada triwulan pertama tahun ini, sektor ekstrasksi ini mendapatkan tambahan investasi sebesar Rp575,58 miliar, disusul industri mineral non logam senilai Rp231,56 miliar terakhir tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp75,48 miliar.

“Sementara untuk realisasi investasi berdasarkan lokasi masih didominasi oleh Kutai Timur sebesar Rp403,3 miliar disusul Kutai Kartanegara (Kukar) dengan Rp261,60 miliar lalu Paser Rp165,26 miliar,” terangnya.

Sebenarnya, kata Sabani, sektor telekomunikasi serta kesehatan juga alami peningkatan selama pandemik virus corona. Selanjutnya untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) dikuasai oleh sektor tanaman pangan dan perkebunan dengan capaian sebesar Rp2,17 triliun, kemudian pertambangan Rp957,11 miliar dan terakhir industri makanan Rp379,00 miliar. Lalu untuk lokasi investasi dipegang oleh Berau sebesar Rp1,89 triliun lalu Kutai Barat (Kubar) Rp720,10 miliar kemudian terakhir Kukar Rp360,60 miliar.

“Antara PMDN dan PMA memang mengalami penurunan drastis. Walaupun tetap ada investasi yang dilakukan di sektor pertambangan, industri, serta UMKM. Tapi tidak begitu tinggi dibandingkan tahun lalu,” terangnya.

Penurunan investasi dari sektor ekstraksi memang bikin pusing. Maklum saja, hingga saat ini bisnis pertambangan masih berkontribusi sebesar 44,18 persen terhadap perekonomian Kaltim. Itu sebab ketika lapangan usaha pertambangan terganggu, maka Kaltim harus bersiap. Transformasi ekonomi wajib dilakukan Kaltim.

Sebab tak selamanya daerah ini bergantung dengan sektor pertambangan. Misalnya industri pengolahan karet menjadi ban, lalu ada industri perikanan menjadi olahan atau industri sawit. Besar harapan realisasi hilirisasi industri terdongkrak tatkala ibu kota negara pindah ke Kaltim.

“Permintaan pasar dunia (untuk sektor pertambangan) juga mengalami penurunan. Mudah-mudahan jika IKN berlanjut, industri pengolahan kayu bisa bangkit lagi bagi PMDN dan PMA. Pun demikian sektor perikanan untuk menghasilkan olahan baru,” tutupnya.

 

 

(idn/js)

More Stories
Niatnya Nagih Utang, Pria di Samarinda Malah Masuk Bui