Pembatasan Aktivitas Diberlakukan, PAD Bontang Kena Imbas

Kepala Bapenda, Sigit Alpian.

PRANALA.CO, Bontang – Pembatasan aktivitas di luar rumah sudah mulai diberlakukan di Kota Bontang, Kalimantan Timur per 7 Oktober 2020. Kondisi malah disinyalir bisa menyebabkan konsekuensi lesunya sejumlah sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Sejumlah pelaku utama yang terdampak di malam hari seperti restoran dan kafe.

Meruginya para pelaku usaha  tersebut pastinya berimbas pada Pendapatan Asli Dearah (PAD) yang berasal dari pungutan pajak. Menanggapi hal itu, Kepala  Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bontang Sigit Alpian menegaskan, seharusnya saat ini tidak perlu menerapkan jam  malam.

Hal itu dikarenakan intruksi pemerintah pusat untuk menerapkan adaptasi kebiasaan baru dianggap bisa mengatasi permasalahan pandemi Covid-19  dan membangkitkan perekonomian di Bontang. Terlebih Pemerintah Kota Bontang telah mengalami pengurangan anggaran sebanyak Rp 400 miliar pada triwulan pertama dan kedua.

Pada triwulan ketiga saja, muncul intruksi untuk melakukan adaptasi kebiasaan baru. Pemberlakuan tersebut dianggap menjadi  titik awal kebangkitan perekonomian.

“Harusnya new normal saja, dengan hidup  menerapkan protokol kesehatan seperti  jaga  jarak, rajin cuci tangan, serta memakai masker. Kalau diberlakukan jam malam pasti berimbas ke perekonomian kita,” ujar Sigit Alpian dikonfirmasi, Kamis (8/10/2020) siang.

Meskipun begitu, Sigit  menyatakan mendukung pembatasan jam malam tersebut, meskipun sangat berpengaruh pada PAD Bontang. Dia menghormati keputusan Pemerintah  Kota Bontang  di bawah kepemimpinan Pjs Wali Kota Riza Indra Riadi.

“Sebagai Kepala Bapenda saya hormati keputasan itu. Berbeda pendapat itu  hal yang biasa menurut saya,” pungkasnya.

 

 

(Saf/Pariwara)

More Stories
Banjir Belum Surut, Banjarmasin Berstatus Tanggap Darurat