Pranala.co, BALIKPAPAN – Mereka bukan artis. Tapi wajah dan suara mereka dikenang banyak orang. Mereka tidak menjual barang. Tapi cerita yang mereka sampaikan bisa membuat siapa pun ingin datang kembali.
Merekalah: pemandu wisata.
Bukan sekadar pengarah jalan. Tapi juga juru bicara budaya, penyambung lidah masyarakat, dan penggerak ekonomi lokal. Di balik kesan indah wisatawan tentang Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) ada suara ramah dan senyum mereka.
“Pemandu wisata itu fasilitator komunikasi, bukan cuma tukang tunjuk arah,” ujar Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Balikpapan, Cokorda Ratih Kusuma, Jumat (13/6/2025).
Balikpapan punya banyak destinasi alam. Ada mangrove, pantai, dan hutan kota. Tapi, semua itu bisa terasa hambar—jika tak ada yang menceritakannya.
Di sinilah peran pemandu menjadi hidup. Mereka membawa wisatawan menyusuri kisah-kisah tersembunyi. Tentang sejarah. Tentang adat lokal. Tentang ekosistem yang mungkin tak pernah masuk brosur wisata.
Bahkan sekarang, mereka mulai akrab dengan teknologi. Aplikasi penerjemah jadi teman mereka saat menghadapi wisatawan mancanegara.
“Mereka menciptakan pengalaman yang amanah dan berkesan,” kata Ratih.
Pemandu wisata juga menyambungkan wisatawan dengan pelaku usaha lokal. Mereka tahu warung mana yang punya masakan paling otentik. Mereka tahu pengrajin mana yang produknya layak dibawa pulang.
Dalam satu kali tur, mereka bisa menyentuh banyak lini ekonomi: kuliner, kerajinan tangan, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Ekosistem kecil yang bergerak karena satu hal: kepercayaan pada pemandu wisata.
“Adanya pemandu, usaha lokal bisa langsung terkoneksi dengan pasar wisata,” ujar Ratih.
Jumlah pemandu wisata resmi di Balikpapan masih sedikit. Hanya 19 orang, tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) cabang Balikpapan.
Namun kontribusi mereka besar. Terutama saat arus kunjungan wisata meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Balikpapan memang tidak sedang berdiri sendiri. Kota ini kini punya peran strategis sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Dan itu artinya, wajah Balikpapan akan lebih banyak disorot.
Maka pemandu wisata tak bisa lagi hanya andalkan pengalaman. Mereka perlu kompetensi, sertifikasi, dan kemampuan narasi yang bisa menjual kota ini lewat kata-kata.
“Pemandu wisata adalah aset kota. Mereka ikut membangun citra Balikpapan,” sambung Ratih.
Karena itu, Disparpora Balikpapan kini serius memperkuat mereka. Dari pelatihan, kurikulum, hingga branding.
Karena kalau pemandunya keren, ceritanya akan sampai. Dan kalau ceritanya mengena, wisatawan pasti kembali ke Kota Balikpapan tercinta.
[SYAHRUL]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















