PRANALA.CO – Ada pesan lama yang selalu terasa baru. Pesan itu datang dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Pesan yang kemudian dikutip kembali Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam karya monumental Nashaihul Ibad. Pesan tentang lima perkara yang membuat manusia sulit menjadi hamba yang shaleh.
Kalimatnya pendek. Namun isinya dalam.
“Seandainya tidak ada lima perkara, niscaya semua manusia itu akan menjadi orang shaleh. Yaitu puas dengan kebodohannya, rakus terhadap dunia, kikir dalam memberi, riya dalam beramal, dan membangga-banggakan akalnya.”
Lima hal itu seperti cermin. Setiap orang bisa saja sedang bercermin kepadanya.
1. Puas dengan Kebodohan
Kebodohan yang dimaksud bukan soal tak tahu urusan dunia. Tetapi kebodohan dalam ilmu agama. Merasa cukup dengan ketidaktahuan. Enggan belajar. Enggan memperbaiki diri.
Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan:
“Allah murka terhadap setiap ilmuwan dunia yang bodoh ilmu akhirat.” (HR Imam Hakim)
Ad Dailami pun meriwayatkan bahwa dosa orang bodoh dihitung dua kali. Pesan yang tegas bahwa ketidaktahuan bukan alasan untuk merasa aman.
2. Rakus terhadap Dunia
Cinta dunia itu wajar. Tapi ketika berubah menjadi kerakusan, hati mulai terasa letih. Badan ikut lelah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Zuhud terhadap dunia menjadikan hati dan badan enak. Sedang cinta kepadanya menjadikan hati dan badan lelah.”
Kerakusan membuat manusia lupa tujuan akhir. Lupa menimbang mana yang perlu, mana yang menjerat.
3. Kikir Memberikan Kelebihan
Rezeki yang berlebih bukan untuk ditahan. Ada hak orang lain di sana. Tetapi sebagian orang justru kikir. Tak rela melepas meski hanya sedikit.
Padahal Rasulullah SAW sudah memberi batas yang jelas:
“Alangkah baiknya dunia bagi orang yang menjadikannya sebagai bekal akhirat. Dan alangkah jeleknya dunia bagi orang yang menghalangi dirinya dari ridha Allah.” (HR Imam Hakim)
Dunia bisa menjadi jembatan menuju kebaikan. Atau tembok yang menghalangi.
4. Riya dalam Beramal
Riya adalah penyakit hati yang paling halus. Amal dilakukan bukan karena Allah, tetapi karena ingin dilihat. Ingin dipuji. Ingin dianggap baik.
Nabi Muhammad SAW memperingatkan keras:
“Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang yang memberitahukan kepada orang bahwa dalam dirinya ada kebaikan, padahal tidak ada.” (HR Ad Dailami)
Imam Bukhari meriwayatkan peringatan lain:
“Siapapun yang memamerkan ketakwaan lebih dari yang ada dalam dirinya, maka ia adalah orang munafik.”
Abu Nu’aim pun menegaskan: “Allah mengharamkan surga bagi semua orang yang riya.”
Riya tak hanya membatalkan amal. Ia menggerogoti hati.
5. Membangga-banggakan Akal
Akal adalah anugerah. Tetapi menjadi penghalang ketika manusia mulai sombong. Merasa paling benar. Menolak nasihat. Merasa kepandaiannya sudah cukup untuk membawanya selamat.
Padahal akal tanpa kerendahan hati bisa menyesatkan. Ia membuat manusia abai terhadap kekurangan diri.
Lima perkara ini terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Dekat sekali. Di era yang serba cepat, serba pamer, serba ingin terlihat benar—peringatan Sayyidina Ali menjadi pengingat yang lembut sekaligus menohok.
Syekh Nawawi al-Bantani mengutipnya bukan tanpa alasan. Ia ingin umat berhenti sejenak. Merenung. Menimbang diri sendiri.
Sebab tanpa lima penghalang itu, manusia—menurut Sayyidina Ali—sesungguhnya mampu menjadi hamba yang shaleh. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















