Kutim, PRANALA.CO – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menapakkan kakinya di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Selasa (13/5/2025). Misinya: meluncurkan Ruang Bersama Indonesia (RBI) ke-8.
“Alhamdulillah sekarang bertambah satu lagi RBI di Kutai Timur. Kami berharap RBI ini bisa menjadi percontohan untuk tingkat nasional,” ucapnya.
RBI ini bukan sekadar program. Ini adalah upaya mengubah wajah Indonesia dari sudut-sudut terkecil: desa dan kelurahan. Tujuannya? Membentuk ruang aman, nyaman, dan memberdayakan bagi perempuan dan anak-anak.
Bukan hanya retorika. Di RBI, semua pihak diajak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha. Semua diajak kerja bareng.
“Yang menjadi kunci dari program RBI ini adalah kolaborasi, kerja sama, dan sinergi dari berbagai pihak,” tegas Arifah.
Kutai Timur, menurut sang Menteri, punya semua modal: fasilitas lengkap, wilayah luas, dan yang paling penting — potensi sumber daya manusia yang tinggal ‘dicolek’ sedikit saja.
“Kalau di tempat lain, fasilitas susah banget, apalagi SDM-nya. Kalau di Kutai Timur fasilitasnya sudah luas. Tinggal nyolek sedikit aja SDM-nya. Ini menjadi kekuatan luar biasa,” kata Arifah setengah berseloroh tapi penuh keyakinan.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyambut program ini bukan dengan pidato basa-basi. Ia datang dengan komitmen penuh.
“Insyaallah Kutai Timur akan terus memenuhi apa yang sudah menjadi kewajiban dalam regulasi, terutama terhadap tumbuh kembang anak dan kenyamanan hidup mereka,” tegasnya di hadapan Menteri Arifah dan jajaran.
Ia tahu, program RBI bukan sekadar seremoni peluncuran. Ia adalah kerja jangka panjang — dan Kutim siap menapakinya bersama semua pemangku kepentingan.
Dengan kehadiran RBI di Kutai Timur, kini program ini sudah ada di delapan titik strategis di Indonesia. Mulai dari Kampung Jimpitan (Banten) hingga Kelurahan Marunda (DKI Jakarta). Kutai Timur menjadi satu-satunya titik di Kalimantan Timur — dan digadang-gadang jadi contoh nasional.
Program ini dijalankan melalui tiga strategi: Pengurangan kekerasan terhadap perempuan dan anak; Peningkatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan; dan Penguatan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Tak ada yang muluk-muluk. RBI tidak bicara tentang pencitraan. Tapi bicara tentang kenyataan: bahwa perempuan dan anak-anak masih jadi kelompok paling rentan. Dan kini, Kutim memutuskan untuk berdiri di garis depan perjuangan itu.
Peluncuran RBI di Kutai Timur bukan akhir, tapi awal dari babak baru. Babak tentang kabupaten yang ingin lebih inklusif, lebih aman, dan lebih manusiawi. [HAF]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















Comments 3