DI TENGAH hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut gerak cepat, kepedulian terhadap sesama sering kali tersisih. Namun, pemandangan berbeda justru tersaji di wilayah pesisir Kelurahan Bontang Kuala, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim).
Sejumlah aparat pemerintahan setempat memilih keluar dari kenyamanan ruang ber-AC. Mereka berjalan kaki menyusuri jembatan kayu di atas air, mengetuk satu per satu pintu rumah warga yang sedang kesulitan melalui program Tengok Tetangga Bontang Kuala.
Jumat (10/7/2026), rombongan yang dipimpin langsung, Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, kembali bergerak. Langkah kaki mereka membawa misi: mengantarkan kehangatan negara sekaligus memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian dalam menghadapi ujian hidup.
Program Tengok Tetangga Bontang Kuala kali ini menyasar empat keluarga yang sedang didera cobaan kesehatan. Langkah pertama berhenti di rumah Mulyono (58). Seorang warga di RT 15 yang kini harus berjuang keras melawan penyakit ginjal.
Tak jauh dari sana, di RT 16, tim menemui Umi Kalsum (65). Lansia ini mengalami pengapuran sendi akut yang membuatnya kesulitan bergerak, dan kini sangat mendambakan bantuan alat penopang tubuh seperti tongkat atau kursi roda.
Perjalanan kemanusiaan ini berlanjut ke kediaman Wati (52) yang tengah berjuang memulihkan kondisi tubuhnya pasca-serangan stroke. Terakhir, rombongan menemui Mbah Syukur (81), sesepuh kampung yang kini harus bertahan di tengah jeratan saraf terjepit serta penurunan fungsi pendengaran.
Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan pengejawantahan dari instruksi langsung Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Tujuannya adalah memotong jarak birokrasi dan mendekatkan pelayanan langsung ke jantung masyarakat.
“kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian dan semangat gotong royong. Kami sudah laksanakan secara rutin dua kali dalam sebulan,” ujar Ardiansyah saat ditemui di sela-sela kunjungan.

Ada pemandangan menarik dari gerakan sosial ini. Paket bantuan yang dibawa—mulai dari bahan pangan pokok hingga popok dewasa—ternyata bukan bersumber dari anggaran formal kedinasan.
Ardiansyah membocorkan bahwa seluruh bantuan murni berasal dari kantong pribadi para pegawai kelurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Tim Penggerak PKK, hingga pemuda Karang Taruna setempat yang dengan ikhlas menyisihkan rezeki mereka.
“Kalau ada rezeki, kami sisihkan. Ini murni dari kebersamaan,” ucap Ardiansyah dengan nada suara lirih namun penuh kebanggaan.
Melalui program Tengok Tetangga, kelurahan Bontang Kuala tidak sekadar datang melempar bantuan lalu pulang. Di setiap ruang tamu kecil warga, mereka duduk bersama, mendengarkan keluh kesah, serta mencatat apa saja yang mendesak untuk ditindaklanjuti.
Semua data kesehatan dan kebutuhan khusus warga yang dikunjungi langsung dicatat rapi. Data ini nantinya akan diintegrasikan dengan program intervensi sosial yang lebih besar di tingkat kota.
Bagi Ardiansyah dan jajarannya, esensi pelayanan publik yang sejati seharusnya tidak kaku di belakang meja kerja. Negara harus hadir secara personal, hangat, dan responsif terutama saat warganya sedang tidak berdaya. (*)

















