KAWASAN pesisir Berbas Pantai, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) ramai dipenuhi aroma ikan bakar dan deru mesin ketinting saat Festival Nelayan Kampung Bawis, Sabtu (9/5). Di tengah kampung nelayan yang selama ini identik dengan aktivitas tangkap ikan, warga mulai mencoba membangun identitas baru berbasis ekonomi kreatif pesisir.
Festival Kampung Bawis tersebut tidak hanya menjadi agenda hiburan warga, tetapi juga upaya memperkenalkan ikan bawis sebagai ikon kuliner khas pesisir Bontang. Beragam kegiatan digelar, mulai dari lomba kreasi masakan bawis, karaoke warga, hingga balap ketinting yang menyedot perhatian masyarakat sejak pagi.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispopar Bontang, Dody Rosdiana, mengatakan festival itu diarahkan untuk menggali potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal masyarakat pesisir. Menurut dia, ikan bawis dinilai memiliki karakter khas yang dapat dikembangkan menjadi identitas kuliner daerah.
“Bukan hanya dijual sebagai ikan tangkapan, tapi bagaimana bawis bisa menjadi identitas kuliner dan produk kreatif masyarakat,” kata Dody.
Sebanyak 16 peserta mengikuti lomba kreasi masakan bawis dengan berbagai inovasi olahan. Tidak hanya disajikan dalam bentuk tradisional, sejumlah peserta juga menghadirkan olahan modern yang menyasar pasar kuliner kekinian, seperti bawis asap dan sambal bawis.
Pemerintah Kota Bontang juga mulai menyiapkan langkah lanjutan untuk mendukung pengembangan produk berbasis bawis. Inovasi olahan yang dinilai memiliki kekhasan akan didorong mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar memiliki nilai tambah ekonomi.
Di sisi lain, festival tersebut memperlihatkan upaya Berbas Pantai membangun citra baru kawasan pesisir. Selama ini wilayah tersebut kerap dikaitkan dengan persoalan lingkungan, terutama sampah pesisir. Melalui festival kampung dan penguatan wisata lokal, warga mencoba menghadirkan wajah lain kampung nelayan yang lebih produktif dan kreatif.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan pengembangan kawasan pesisir tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga harus tumbuh dari kreativitas masyarakat setempat. Menurut dia, ekonomi kreatif berbasis potensi lokal dapat menjadi jalan baru untuk memperkuat ekonomi warga pesisir.
“Karakter ekonomi kreatif yang orisinal harus dibangun dari potensi lokal masyarakat sendiri,” ujar Neni.
Namun di tengah kemeriahan festival, pemerintah juga menyoroti persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah di kawasan pesisir, yakni sampah dan penyalahgunaan narkoba. Warga diminta mendukung program GESIT (Gerakan Sampahku Tanggung Jawabku) serta meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak di lingkungan pesisir.
Festival Nelayan Kampung Bawis turut dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya Penjabat Sekretaris Daerah Bontang Akhmad Suharto, Ketua DPRD Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam, Camat Bontang Selatan Achmad Efa Yuliansyah, dan Lurah Berbas Pantai Hadi Jumianto.
Bagi warga pesisir, festival itu bukan sekadar hiburan akhir pekan, tetapi juga upaya mencari jalan baru agar laut tidak hanya memberi hasil tangkapan, melainkan juga masa depan ekonomi kampung. [ADS/BTG]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















