Pranala.co, SAMARINDA – Komoditas nonmigas masih menjadi tulang punggung perdagangan luar negeri Kalimantan Timur (Kaltim) pada awal 2026. Nilai ekspor daerah ini pada Januari 2026 tercatat mencapai 1,58 miliar dolar Amerika Serikat (AS), dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor nonmigas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai, mengatakan ekspor nonmigas mendominasi hampir seluruh nilai ekspor Kaltim pada periode tersebut.
“Dari total ekspor 1,58 miliar dolar AS itu, ekspor migas hanya menyumbang 116,94 juta dolar atau sekira 7,31 persen. Sisanya sebesar 1,46 miliar dolar berasal dari ekspor nonmigas,” kata Rifai, Kamis (5/3/2026).
BPS mencatat ekspor nonmigas Kaltim berasal dari tiga sektor utama. Sektor pertambangan dan komoditas lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai 1,16 miliar dolar AS.
Sementara itu, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 309,35 juta dolar AS. Adapun sektor pertanian memberikan sumbangan yang relatif kecil, yakni sekira 1,77 juta dolar AS.
Dominasi sektor pertambangan tersebut menunjukkan bahwa komoditas berbasis sumber daya alam masih menjadi penopang utama ekspor Kaltim.
Rifai menjelaskan bahwa perkembangan ekspor Kaltim tidak terlepas dari berbagai dinamika ekonomi global yang melibatkan negara-negara mitra dagang utama.
Salah satunya adalah proyeksi penurunan impor batu bara oleh China pada 2026. Asosiasi Industri Batu Bara China memperkirakan impor komoditas tersebut akan menurun, seiring rencana Indonesia membatasi produksi dan ekspor batu bara guna menjaga stabilitas harga global.
Selain itu, India juga menargetkan pengurangan impor batu bara hingga 30 persen pada sektor pembangkit listrik sepanjang 2026. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan batu bara domestik serta mengurangi ketergantungan pada energi impor.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia pada Januari 2026 tercatat rata-rata mencapai 67 dolar AS per barel. Angka ini naik sekitar 4 dolar dibandingkan Desember 2025.
Kenaikan harga tersebut dipengaruhi gangguan produksi di sejumlah wilayah serta meningkatnya tekanan geopolitik di beberapa kawasan.
“Pada Januari 2026, India juga mengimpor pupuk majemuk jenis NPK dan NP sekitar 195.000 ton. Angka ini merupakan yang terendah selama periode 2025 hingga 2026, turun hampir 16 persen dibandingkan Desember 2025,” ujar Rifai.
Meski masih mencatat nilai ekspor yang tinggi, BPS mencatat terjadi penurunan ekspor Kaltim pada Januari 2026.
Nilai ekspor sebesar 1,58 miliar dolar AS tersebut turun sekira 31,25 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh tekanan geopolitik di Timur Tengah serta gejolak ekonomi global yang berdampak pada perdagangan internasional.
Sementara itu, nilai impor migas Kaltim pada Januari 2026 tercatat sebesar 584,22 juta dolar AS atau meningkat 10,76 persen dibandingkan Desember 2025.
Sebaliknya, impor nonmigas mengalami penurunan. Pada Januari 2026, nilainya tercatat 53,42 juta dolar AS atau turun 29,96 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, neraca perdagangan Kaltim tetap mencatatkan surplus yang cukup besar.
“Pada Januari 2026, neraca perdagangan Kaltim surplus sebesar 947,42 juta dolar AS. Surplus ini berasal dari sektor nonmigas yang mencapai 1,41 miliar dolar, sedangkan sektor migas mengalami defisit sebesar 468,28 juta dolar,” kata Rifai.
Data BPS ini kembali menegaskan bahwa struktur ekspor Kaltim masih sangat bergantung pada komoditas berbasis sumber daya alam, terutama sektor pertambangan. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















