GELOMBANG Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor tambang mulai menyentuh Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Sebanyak 160 pekerja dirumahkan akibat penurunan produksi batu bara di salah satu perusahaan. Dari jumlah itu, hanya dua orang ber-KTP Bontang—namun justru menjadi fokus intervensi pemerintah daerah.
Di tengah angka yang tampak kecil secara administratif, situasinya tidak sesederhana itu. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut dua warga lokal tersebut akan langsung mendapat pendampingan. Pemerintah berupaya memastikan mereka tidak jatuh ke jurang pengangguran berkepanjangan.
“Dua orang ini tentu menjadi perhatian kami. Pemerintah akan langsung hadir memberikan pendampingan,” kata Neni dalam peringatan Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026).
Langkah yang disiapkan bukan bantuan sementara. Pemkot Bontang menawarkan akses permodalan tanpa bunga bagi korban PHK yang ingin beralih menjadi pelaku usaha. Skema ini diarahkan sebagai bantalan awal agar kehilangan pekerjaan tidak berujung pada tekanan ekonomi yang lebih dalam.
PHK ini sendiri dipicu kebijakan pengurangan produksi batu bara hingga 50 persen. Dari sebelumnya sekitar 8 juta ton per tahun, kini hanya berkisar 4 juta ton. Penurunan tersebut berdampak langsung pada aktivitas operasional dan kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
Di sisi lain, Pemkot Bontang mencoba menjaga ruang agar para pekerja yang dirumahkan tetap memiliki peluang kembali bekerja. Komunikasi dengan perusahaan dilakukan, dengan harapan pekerja lama diprioritaskan jika produksi kembali meningkat.
“Kami sudah sampaikan, ketika produksi kembali meningkat, pekerja yang dirumahkan bisa diprioritaskan untuk kembali bekerja,” ujar Neni.
Di tengah tekanan sektor tambang, Bontang mencatat penurunan tingkat pengangguran dari 10 persen menjadi 6 persen, atau dari sekitar 10 ribu orang menjadi 6 ribu orang. Angka ini menunjukkan tren perbaikan, namun PHK terbaru menjadi pengingat bahwa kerentanan masih ada.
Wali Kota Bontang menegaskan akan terus mengawal situasi ini, sembari memastikan dampak PHK tidak meluas menjadi masalah sosial yang lebih besar. Bagi sebagian pekerja, masa depan kini bergantung pada seberapa cepat peluang baru bisa tercipta. [FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















