Pranala.co, SAMARINDA – Utang sering kali menjadi beban yang berat, baik secara finansial maupun emosional. Dalam menghadapi kondisi ini, banyak orang mencari berbagai cara untuk melunasi kewajibannya, mulai dari strategi keuangan hingga usaha tambahan. Namun, selain ikhtiar lahiriah, doa juga menjadi salah satu upaya batin yang diyakini dapat membantu meringankan beban dan membuka jalan menuju pelunasan.
Doa pelunasan utang merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan agar diberikan kelapangan rezeki serta kemudahan dalam menyelesaikan kewajiban finansial. Dalam berbagai ajaran agama, terdapat doa-doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.
Dalam sejarah Islam, utang bukanlah perkara sepele. Diceritakan bahwa salah satu sahabat Rasulullah SAW pernah mengalami kesulitan akibat utang hingga memilih mengurung diri di rumah. Kejadian itu terjadi pada hari Jumat, namun karena begitu takut bertemu dengan pemberi pinjaman, sahabat tersebut memutuskan untuk tidak menghadiri shalat Jumat. Sahabat yang mengalami hal ini adalah Muadz bin Jabal.
Kisah ini menunjukkan betapa beratnya beban utang yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan seseorang, bahkan ibadah sekalipun.
Doa Khusus dari Rasulullah SAW
Ustadz Adi Hidayat, yang akrab disapa UAH, dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Adi Hidayat Official melalui laman dompetdhuafa.org, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mengajarkan doa khusus agar terbebas dari utang kepada para sahabat dan umatnya.
Perkataan Nabi ini tercatat dalam kitab Shahih Muslim karya Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj An-Naysaburi, tepatnya pada topik ke-48 yang membahas zikir, doa, taubat, dan istighfar, dalam hadis nomor 2713.
“Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, dia berkata: ‘Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bahwa jika salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan, lalu mengucapkan (doa agar terbebas dari utang),'” tutur UAH mengutip sanad hadis tersebut.
Berikut bunyi doa yang diajarkan Rasulullah SAW:
“Allahumma rabba as-samawati as-sab’i wa rabba al-‘arsyi al-‘azhim, rabbana wa rabba kulli syai-in, faliqu al-habbi wa an-nawa wa munzila at-taurati wa al-injili wa al-furqan. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta akhidzum bi-nasiyatih. Allahumma anta al-awwalu fa laysa qablaka syai-un wa anta al-akhiru fa laysa ba’daka syai-un, wa anta az-zahiru fa laysa fawqaka syai-un, wa anta al-batinu fa laysa dunaka syai-un, iqdi ‘anna ad-dayna wa aghnina min al-faqr.”
Artinya:
“Ya Allah yang mencipta, merawat, dan mengatur tujuh langit dan Bumi, Rabb dari ‘Arsy yang agung itu, Allah Tuhan kami yang merawat kami dan juga merawat segala hal, yang menumbuhkan biji-bijian dan tetumbuhan, yang telah menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an sebagai pembeda. Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari segala keburukan dan Engkau Yang Mahakuasa untuk dapat menentukan segala hal terjadi. Duhai Allah, Engkaulah yang paling awal dan tidak ada sebelumnya apa pun itu, dan Engkaulah yang paling akhir dan tidak ada setelahnya apa pun, dan Engkaulah yang nyata dan tidak ada yang meliputi-Mu di atas-Mu apa pun itu, dan Engkaulah yang batin dan tidak ada selain-Mu apa pun. Ya Allah, kami mohon anugerahkan kecukupan rezeki untuk melunasi utang-utang kami hamba-Mu ya Allah dan bebaskan kami dari kefakiran.”
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa doa ini sebaiknya diamalkan sebelum tidur. Caranya adalah dengan berbaring menghadap ke kanan dan membaca doa ini setelah terlebih dahulu membaca doa-doa perlindungan.
“Nampaknya ini jadi pengetahuan baru untuk kita memohon kepada Allah agar dibebaskan dari jeratan utang dan kefakiran. Semoga bisa dibacakan dengan penuh kekhusyukan, penuh harap, memohon kepada Allah Sang Pemberi Rezeki, yang merawat kita, memenuhi segala kebutuhan, mencukupkan segala hal, menyehatkan, dan memberikan perlindungan,” tandas UAH.
Utang dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, utang wajib dibayar karena merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Islam sangat menekankan keadilan dalam bermuamalah, termasuk dalam urusan keuangan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung pada hutangnya hingga dilunasi.” (HR. at-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa utang yang belum dibayar bisa menjadi penghalang bagi seseorang di akhirat.
Selain itu, melunasi utang juga mencerminkan sikap jujur dan bertanggung jawab. Bahkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 282), Allah memerintahkan untuk mencatat utang-piutang agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.
Dengan menggabungkan doa, usaha yang sungguh-sungguh, dan pengelolaan keuangan yang baik, harapan untuk melunasi utang menjadi lebih besar. Keyakinan dan kesabaran dalam menjalani proses ini sangat penting agar tidak mudah putus asa. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















