BERADA di bawah bayang-bayang industri besar ternyata belum membuat warga di sekitar kawasan industri Pangkep, termasuk PT Semen Tonasa, benar-benar aman. Fakta di lapangan menunjukkan, banyak warga yang masih buta arah dan bingung harus menyelamatkan diri ke mana jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat pabrik.
Kondisi miris ini memicu kekhawatiran dari Anggota DPRD Pangkep, Syamsinar. Politisi ini melihat ada gap besar antara pesatnya pertumbuhan investasi dengan jaminan keselamatan jiwa masyarakat yang tinggal di ring satu industri.
Syamsinar menegaskan, pemerintah daerah dan pihak manajemen pabrik tidak boleh menutup mata. Budaya sadar bencana harus dibangun dari sekarang, tanpa perlu menunggu jatuhnya korban jiwa terlebih dahulu.
Menurut Syamsinar, langkah mitigasi bencana selama ini terkesan reaktif dan hanya gencar setelah musibah terjadi. Kebiasaan buruk ini harus diubah total melalui program edukasi yang berkelanjutan dan menyentuh akar rumput.
“Sebagai DPRD, kami meminta pemerintah daerah dan pihak perusahaan untuk memperkuat program mitigasi bencana melalui sosialisasi rutin dan simulasi evakuasi,” ujar Syamsinar saat berbicara kepada media.
Ia juga menyoroti pentingnya penyebaran informasi yang mudah dipahami masyarakat, serta pembentukan jalur komunikasi yang cepat dan efektif ketika terjadi kondisi darurat.
Politisi Pangkep ini mengingatkan bahwa rapor merah atau hijau sebuah perusahaan tidak boleh hanya dilihat dari angka-angka ekonomi semata. Serapan tenaga kerja dan besarnya kontribusi terhadap pendapatan daerah menjadi tidak bernilai jika warga sekitar selalu dihantui rasa cemas.
“Kehadiran industri di tengah masyarakat tidak hanya diukur dari kontribusi ekonomi, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap keselamatan dan keamanan warga sekitar,” tegasnya menohok.
Ia menambahkan, saat ini masih banyak warga yang belum memahami potensi risiko di lingkungan tempat tinggal mereka. Hal krusial seperti jalur evakuasi yang aman pun belum dipahami dengan baik oleh masyarakat.
Berkaca dari berbagai insiden kedaruratan industri yang terjadi di tanah air belakangan ini, Syamsinar meminta PT Semen Tonasa dan industri lainnya di Pangkep untuk menggelar simulasi secara berkala, baik sebulan sekali atau per triwulan.
Kolaborasi tiga pilar—pemerintah, perusahaan, dan masyarakat—harus menjadi fondasi utama. Sistem informasi darurat yang ramah warga wajib segera disiapkan agar publik tidak panik saat sirine bahaya berbunyi.
“Jangan sampai masyarakat menjadi pihak yang paling rentan ketika terjadi keadaan darurat. Mitigasi harus diperkuat sejak sekarang agar warga Pangkep siap, paham, dan terlindungi,” ucap Syamsinar.
Menutup pernyataannya, ia berharap langkah antisipasi dini ini bisa meminimalkan risiko terburuk, meski semua pihak tentu berharap situasi darurat industri tidak pernah terjadi di bumi Pangkep. [IR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















