SANGATTA, Pranala.co — Langkah kecil sering kali menjadi awal perubahan besar. Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), sekelompok anak muda membuktikan teori tersebut lewat komunitas Odah Etam. Mereka tak hanya peduli lingkungan, tetapi juga merintis model ekonomi baru dari barang yang selama ini dianggap tak berguna: sampah plastik.
Odah Etam, yang berdiri sejak 2023, kini memfokuskan diri pada pengelolaan limbah plastik sebagai sektor utama. Komitmen ini diambil sejak awal 2025, setelah melihat data mengkhawatirkan soal sampah nasional.
Data World Population Review 2021 menempatkan Indonesia di peringkat delapan negara penghasil sampah terbanyak dunia. Lebih parah lagi, menurut Sustainable Waste Indonesia, dari 12,87 juta ton sampah plastik pada 2023, hanya tujuh persen yang dikelola dengan baik. Sisanya? Mencemari tanah, air, dan udara kita.
Sepuluh penggerak Odah Etam menginjakkan kaki di ruang kerja Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, Kamis (26/3/2026). Mereka membawa rencana besar: studi banding ke Rumah Plastik Mandiri, Buleleng, Bali, bersama PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Tujuannya mempelajari seluruh rantai nilai pengolahan plastik, mulai pengumpulan, pemilahan, pengolahan jadi biji plastik, hingga produksi dan pemasaran.
Namun Bupati Ardiansyah menyambut dengan nada realistis sekaligus penuh harap. “Jangan sampai ketika bantuan itu tidak ada lagi, kegiatan ini ikut berhenti. Harus bisa mandiri dan berkelanjutan,” pesannya tegas.
Pesan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak gerakan lingkungan yang gugur di tengah jalan karena bergantung pada donor. Odah Etam diminta membangun model bisnis yang bisa berdiri sendiri.
Yang menarik, Bupati Ardiansyah tak sekadar mendukung. Ia memberi arahan strategis: jangan hanya produksi furnitur atau bahan bangunan seperti genteng dan batako dari plastik. Ia menyarankan pengembangan material kerajinan manik-manik untuk masyarakat Dayak.
“Manik-manik Dayak punya nilai jual tinggi dan pasar yang jelas. Ini bisa jadi diferensiasi produk Odah Etam sekaligus melestarikan budaya lokal,” ujarnya.
Kolaborasi juga harus diperkuat, tak hanya dengan komunitas peduli sampah, tetapi hingga tingkat rukun tetangga (RT). Pengumpulan dan pemilahan dari rumah ke rumah menjadi kunci terciptanya sistem yang efisien.
Superintendent Local Business Development PT KPC, Faizal, menyambut positif inisiatif ini. “Kami melihat ini sebagai gerakan yang baik. Walaupun baru mulai, ini punya potensi besar jika dikelola dengan konsisten dan serius,” katanya.
Founder Odah Etam, Ibnu Mahaddhir, mengungkapkan visi sederhana komunitasnya: “Tujuan kami sederhana, bagaimana sampah ini bisa jadi sesuatu yang berguna dan bisa bantu ekonomi teman-teman juga.”
Kini Odah Etam mulai menjaring bahan baku dari sekolah, bengkel motor dan mobil, kafe, hingga lingkungan RT di Sangatta. Edukasi pemilahan dari rumah menjadi fondasi yang terus digenjot.
Dengan memadukan kepedulian lingkungan, peluang ekonomi, dan nilai budaya Dayak, Odah Etam berharap semakin banyak anak muda Kutim yang ikut terlibat. Karena di tangan mereka, sampah bukan lagi akhir—melainkan awal dari sesuatu yang lebih baik. (RIL/RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















