PERAYAAN Hari Raya Waisak di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), tahun ini terasa sangat berbeda. Umat Buddha di Kota Tepian tidak hanya berkumpul di dalam vihara untuk merapalkan doa-doa suci, tetapi mereka juga turun langsung menyentuh bumi yang kian menua.
Ada getaran spiritual yang kuat saat ratusan umat Buddha melangkah menuju tepi Sungai Karang Mumus. Mereka membawa pesan. Menjaga kesucian batin harus berjalan beriringan dengan merawat alam sekitar yang kian terancam.
Langkah nyata ini menjadi bagian dari perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE di Samarinda. Di tengah hiruk-pikuk kota, mereka memilih cara yang sunyi namun berdampak besar untuk merayakan momen sakral ini, yakni dengan memulihkan ekosistem air.
Ketua Buddhist Centre Samarinda, Pandita Hendri Suwito, mengungkapkan bahwa fokus perayaan tahun ini berpusat pada konsep ekoteologi. Ini adalah sebuah pandangan spiritual yang menegaskan bahwa manusia memegang tanggung jawab penuh atas keseimbangan alam.
Sebagai implementasi konkret, umat Buddha secara serentak menuangkan cairan eco enzyme ke aliran Sungai Karang Mumus. Cairan organik ini dipercaya mampu membantu menjernihkan dan memperbaiki kualitas air sungai yang selama ini menjadi urat nadi warga Samarinda.
“Kami mengedepankan ekoteologi dengan konsentrasi pada isu-isu lingkungan melalui penebaran cairan eco enzyme di Sungai Karang Mumus,” ujar Pandita Hendri, Minggu (31/5/2026).
Bagi umat Buddha di Kaltim, Waisak bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa makna. Momen ini menjadi alarm pengingat di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dan kerap melupakan esensi kemanusiaan.
Pandita Hendri mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam pemburuan materi yang semu. Menurutnya, kemajuan zaman yang tidak dibarengi dengan rasa welas asih dan kebijaksanaan hanya akan melahirkan kerusakan, baik bagi manusia maupun alam.
Ia melihat, krisis global yang terjadi hari ini sebenarnya berakar dari satu tempat: batin manusia yang tidak tenang, egois, dan dipenuhi kebencian.
Dalam keheningan Malam Renungan Waisak 2026, umat diajak untuk kembali menata kesadaran. Harmoni kehidupan tidak akan pernah tercapai jika hubungan manusia dengan alam sekitarnya rusak.
Pandita Hendri meyakini bahwa masa depan dunia ini sangat bergantung pada apa yang ada di dalam hati setiap individu. Kedamaian dunia yang luas tidak akan pernah tercipta tanpa adanya perubahan sikap dari hal-hal kecil di sekitar kita.
“Kehidupan yang damai, sehat, dan bermartabat niscaya dapat terwujud secara nyata selama kebijaksanaan selalu berjalan berdampingan secara selaras dengan cinta kasih,” tutup Pandita Hendri dengan penuh rasa haru. [TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















