PENANTIAN warga Kampung Timur, RT 01, Kelurahan Kanaan, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), seolah tak berujung. Di balik dinding-dinding rumah yang sempat jebol diterjang longsor, tersimpan kekecewaan mendalam terhadap janji yang separuh jalan.
Katinem, salah satu warga terdampak, masih ingat betul kesepakatan dengan pemilik galian C di wilayah tersebut. Namun, kesepakatan tinggal kertas. Harapan untuk memulihkan rumahnya kini harus ia tanggung sendiri dengan sisa tabungan.
“Ganti ruginya beda-beda, tergantung kerusakan. Rumah saya dijanjikan Rp15 juta, tapi baru dikasih Rp10 juta. Janjinya dilunasi puasa kemarin, tapi sampai sekarang nihil,” ujar Katinem dengan nada getir, Sabtu (30/5/2026).
Uang yang tak seberapa itu diputar otak oleh Katinem. Ia terpaksa meninggikan lantai ruang tamu agar lumpur tak lagi bertamu saat hujan turun. Akibatnya, rumahnya kini tampak lebih pendek dari aslinya.
Mirisnya, uang kompensasi itu tak menutup semua biaya material. Katinem harus merogoh kocek pribadi demi menutup kekurangan. “Yang penting bisa ditempati dulu. Kalau nunggu (pelunasan), nggak tahu sampai kapan,” keluhnya.
Kondisi tak jauh beda dialami Heriyati. Rumahnya termasuk yang terparah, dindingnya sempat jebol dihantam longsoran tanah. Ia dijanjikan kompensasi Rp35 juta, namun realisasinya setali tiga uang dengan Katinem: belum lunas.
Tak mau terus-terusan meratapi nasib di rumah yang hancur, Heriyati dan suaminya nekat jadi ‘tukang’ dadakan. Mereka memperbaiki kerusakan seadanya dengan tangan sendiri agar bisa segera pindah.
“Alhamdulillah sudah bisa ditempati walau seadanya. Kalau nunggu uangnya cair penuh, nggak akan selesai-selesai ini rumah,” kata Heriyati.
Bagi warga di sana, persoalan bukan sekadar soal nominal rupiah. Ada ancaman nyata yang mengintai setiap kali langit mendung. Rencana pembangunan drainase untuk mencegah banjir lumpur susulan hingga kini hanya jadi wacana.
Meski aktivitas galian C dikabarkan sudah berhenti, warga merasa ditinggalkan bersama tumpukan masalah lingkungan. Mereka kini hidup dalam waswas, menanti tanggung jawab moral yang tak kunjung datang.
“Kalau janji ya ditepati. Ini kami yang kena dampaknya, kami yang menanggung susahnya,” tegas Heriyati menutup pembicaraan. [RE/FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















