LANGKAH kaki memasuki Kelurahan Masjid dan Kelurahan Baqa di Kecamatan Samarinda Seberang, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) langsung disambut suara ritmis yang khas. Suara kayu yang beradu, klak-klik-klak, terdengar bersahutan dari teras rumah warga.
Di sinilah jantung Kampung Tenun, tempat selembar Sarung Samarinda dilahirkan dari ketekunan jemari para pengrajin lokal.
Namun di balik harmoni suara Alat Tenun Bukan Mesin tersebut, tersimpan kecemasan yang mendalam dari para penjaga tradisi kain tradisional Kalimantan Timur ini.
Salah satunya adalah Sumarni. Di usianya yang telah menginjak 65 tahun, sorot matanya masih tajam menatap helai demi helai benang Jepang yang sedang ia ranyam.
Lebih dari tiga dekade sudah Sumarni mendedikasikan hidupnya untuk merawat identitas Kota Tepian. Sejak tahun 1990, ia memilih tidak tinggal diam dan ikut menggeluti usaha tenun yang dibawa oleh leluhurnya dari Sulawesi.
“Kalau asal muasalnya tenun, memang di sini tempatnya. Kita kan pendatang, melihat di Sulawesi ada tradisi tenun, jadi kami lanjutkan di sini,” kenang Sumarni sembari membetulkan posisi duduknya.
Bagi Sumarni, menenun bukan sekadar urusan dapur mengepul, melainkan sebuah jalan merawat warisan asimilasi budaya Bugis dan Kerajaan Kutai.
Rumitnya Motif, Mahalnya Harga Sebuah Kesabaran
Membuat selembar Sarung Samarinda asli bukanlah perkara instan yang bisa selesai dalam hitungan jam. Keunikan kain ini justru lahir karena para pengrajin tenun tradisional emoh beralih ke mesin modern.
Untuk selembar sarung laki-laki dengan motif kotak-kotak biasa, Sumarni membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Ceritanya akan berbeda jika ia mulai menggarap sarung perempuan.
“Kalau sarung perempuan bisa sampai lima hari karena ada motifnya, seperti motif Dayak atau motif ‘Hatta’. Biasanya juga ada tambahan selendang,” tutur Sumarni.
Waktu dan ketelitian inilah yang membuat harga Sarung Samarinda asli dibanderol mulai dari Rp300.000 hingga Rp900.000. Bahkan untuk paket sarimbit atau pasangan, harganya bisa menembus Rp1,6 juta.
Sayangnya, mahalnya harga ini bukan semata-mata karena pengrajin ingin untung besar. Industri rumahan ini rupanya ikut terombang-ambing oleh situasi geopolitik global.

“Benangnya kan dikirim dari luar, pakai benang Jepang. Makanya modal kita ikut kurs dolar. Kalau ada perang di luar sana, harga benang ikut naik dan pengaruh ke kita,” keluhnya.
Gempuran Pabrik dan Sepinya Pembeli
Kini, Kampung Tenun Samarinda sedang tidak baik-baik saja. Sumarni menceritakan betapa lesunya pasar dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan omzet terjun bebas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Bayangkan saja, momen bulan puasa yang biasanya menjadi panen raya para pengrajin kini terasa hambar.
“Beda jauh persennya. Selama bulan puasa kemarin saja tidak sampai 20 sarung yang terjual. Padahal biasanya bisa laku ratusan lembar, apalagi pasca-pandemi dulu,” kata Sumarni dengan nada lirih.
Pemasaran digital yang masih terbatas pada pesan singkat dan ketergantungan pada pameran pemerintah dinilai belum mampu menjadi juru selamat.
Kondisi ini diperparah dengan serbuan produk sarung tiruan buatan pabrik. Dengan harga yang jauh lebih murah, produk massal tersebut perlahan menggeser posisi tenun premium hasil keringat para pengrajin lokal.
Meski dihantam badai ekonomi dan modernisasi yang tak kenal ampun, Sumarni menolak menyerah. Harapannya hanya satu, adanya perhatian nyata dan berkelanjutan dari berbagai pihak agar nasib pengrajin kecil sepertinya tidak karam.
Bagi Sumarni dan pengrajin lainnya, mempertahankan kualitas setiap helai benang adalah cara mereka memastikan bahwa identitas dan marwah Samarinda tidak akan hilang ditelan zaman. [TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















