Buletin Kaffah Edisi 215: Menunaikan Hak-Hak Nabi SAW

PADA bulan Rabiul Awwal, umat Muslim di Indonesia umumnya bergembira menyambut peristiwa kelahiran Nabi saw. Beliaulah satu-satunya pribadi yang tidak pernah lekang keharuman namanya. Tak pernah pudar kekaguman orang pada keluhurannya. Sepanjang masa, nama Baginda Nabi saw. dielu-elukan. Shalawat untuk beliau banyak dibacakan. Makam beliau pun ramai dikunjungi orang dengan penuh keharuan sembari diiringi tetesan air mata kerinduan.

Kegembiraan itu wajar mengingat pengutusan Rasulullah saw. adalah nikmat yang paling agung bagi umat manusia. Berkat kedatangan beliau, manusia dibebaskan dari kesesatan. Mereka diajak menuju keimanan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلاَ مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Sungguh, Allah telah memberi kaum Mukmin karunia ketika Dia mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka serta mengajari mereka al-Kitab (al-Quran) dan Hikmah (as-Sunnah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (TQS Ali Imran [3]: 164).

Tunaikan Hak Nabi SAW

Kegembiraan itu mesti diwujudkan dengan menunaikan hak-hak Rasulullah saw. Hak yang paling utama adalah mengimani beliau sebagai utusan Allah, sekaligus penutup kenabian dan pembawa risalah terakhir. Mengimani Rasulullah satu-kesatuan dengan seluruh keimanan yang lain. Tidak boleh dipisahkan. Tidak seperti orang-orang Yahudi yang telah mengetahui Rasulullah saw. adalah nabi yang terakhir, namun menolak mengimani beliau. Padahal tanda-tanda kenabian telah nyata pada diri Baginda Nabi saw.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Sungguh sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui (TQS al-Baqarah [2]: 146).

Juga bukan seperti pengikut Ahmadiyah yang menolak Rasulullah saw. sebagai penutup para nabi dan rasul. Mereka malah mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhir. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda:

وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

Aku adalah al-‘Aqib (yang paling belakang). Al-‘Aqib yaitu [nabi] yang tidak ada lagi nabi sesudahnya (HR Muslim).

Hak Rasulullah saw. yang patut diperhatikan dan ditunaikan umat manusia adalah membacakan shalawat dan salam untuk beliau. Seorang Mukmin telah diperintahkan Allah SWT untuk senantiasa memanjatkan shalawat dan salam kepada Nabi saw. sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada dirinya (TQS al-Ahzab [33]: 56).

Hak Dicintai dan Ditaati

Rasulullah saw. juga punya hak untuk dicintai umatnya. Ini adalah bagian kesempurnaan iman. Kecintaan kepada Nabi saw. bukan cinta biasa, tetapi kecintaan di atas segalanya; melebihi cinta pada harta, keluarga dan manusia lain. Sabda beliau:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ وَأَهْلِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada hartanya, keluarganya dan seluruh umat manusia (HR Muslim).

Penting bertanya kepada diri kita, sudah luruskah cinta kita kepada Rasulullah saw.? Pantaskah cinta pada keluarga, harta, jabatan, kelompok, suku bangsa, menyingkirkan rasa cinta kepada Rasulullah? Apalagi bila pernyataan cinta itu tidak dibarengi dengan pembelaan atas kehormatan beliau saat dinistakan. Pantaskah orang mengaku cinta kepada beliau, tetapi berdiam diri dan mencari-cari alasan untuk tidak marah dan tidak membela kemuliaannya? Sebaliknya, bila harga dirinya, keluarganya, atau jabatannya terusik, amarah dirinya meledak.

Tentu amat tidak pantas. Allah SWT bahkan menyebut mereka fasik seraya mengancam mereka. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik (TQS at-Taubah [9]: 24).

Kecintaan yang hakiki kepada Nabi saw. akan mengantarkan seorang Muslim kelak bersama dengan beliau kelak di dalam surga. Bahkan amal-amal yang lain pun tak bisa mengantarkan seorang Muslim untuk bisa bersama dengan Rasulullah, kecuali mahabbah kepada beliau. Anas bin Malik ra. berkata bahwa suatu ketika ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya tentang Hari Kiamat. Kemudian Nabi saw. bertanya kepada orang tersebut:

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا كَبِيرَ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?” Orang itu menjawab, “Aku tidak menyiapkan sekian banyak shalat dan puasa untuknya, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw. berkata, “Seseorang bersama orang yang ia cintai dan engkau bersama orang yang engkau cintai.” (HR Tirmidzi).

Kecintaan kepada Nabi saw. juga harusnya membawa kita menunaikan hak beliau berikutnya, yakni menaati beliau. Seorang Muslim senantiasa mendahulukan ketaatan kepada Rasulullah saw. ketimbang kepada selain beliau. Cinta dan taat kepada Rasulullah saw. membuat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mengorbankan semua harta untuk menemani perjalanan hijrah beliau. Demikian pula Saad bin Abi Waqqash ra. Karena cinta dan taat kepada Rasulullah saw., ia mengabaikan permintaan ibunya untuk murtad dari Islam.

Demikianlah, karena Allah SWT telah mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadikan siapa saja, termasuk orangtua dan saudara, sebagai sahabat dan penolong jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan (Lihat: QS at-Taubah [9]: 23).

Ketaatan kepada Rasulullah saw. akan mengantarkan umat ke dalam surga-Nya. Rasulullah saw. telah berjanji bahwa umat ini seluruhnya akan masuk surga, kecuali yang enggan. Sabda beliau:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku masuk surga selain yang enggan,” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku masuk surga dan siapa yang membangkang kepadaku berarti ia enggan.” (HR al-Bukhari).

Karena itu jangan sia-siakan rasa cinta kepada Nabi saw. dengan membangkang kepada beliau; menolak syariah Islam yang beliau bawa, mengkriminalisasi khilafah, memusuhi para pengemban dakwah dan membubarkan organisasinya, menebarkan fitnah kepada sesama Muslim, lalu malah bermesraan dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa kelak di akhirat, akan ada orang-orang yang berusaha mendekati Rasulullah saw. dan berharap bisa mendapatkan air dari telaga, namun mereka terhalang. Bahkan Rasulullah saw. sampai keheranan dan berkata:

يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ

“Tuhanku, ia adalah bagian dari diriku dan termasuk umatku!” Dijawab, “Apakah engkau menyadari apa yang mereka lakukan sepeninggalmu? Demi Allah, mereka tak henti-hentinya berbalik ke belakang.” (HR al-Bukhari).

Siapakah yang dimaksud dengan orang yang berbalik ke belakang itu sehingga terhalang mendapatkan minuman di telaga akhirat? Imam al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah menyebutkan, “Semua orang yang murtad dari agama Allah, atau membuat bid’ah yang tidak diridhai dan diizinkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang diusir dan dijauhkan dari telaga…Demikian pula orang-orang zalim yang melampaui batas dalam kezalimannya, membasmi kebenaran, membantai penganut kebenaran, dan menekan mereka…”

Penjelasan di atas patut direnungkan bagi siapa saja yang mengharapkan kemuliaan bersama Nabi saw. di akhirat, mendapatkan air dari telaga pemberian beliau. Hendaknya mereka segera meninggalkan kezaliman kepada orang-orang yang memperjuangkan agama Allah. Sebaliknya, hendaknya mereka kembali menegakkan ketaatan sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah orang-orang yang beruntung. WalLaahu a’lam. **

More Stories
Tiga Warisan ‘Islam’ Melawan Covid-19