Bontang Sulit Realisasikan Salat Idulfitri di Masjid

MUI Bontang, pemuka agama, Polres Bontang, organisasi keagamaan saat rapat menentukan Salat Idulfitri di Rujab Wali Kota Bontang, 16 Mei lalu. (Dok/Humas)

KEINGINAN untuk Salat Idulfitri di masjid dan tanah lapang secara berjemaah begitu kuat di tengah masyarakat Kota Bontang, Kalimantan Timur. Padahal, kota ini masih berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB). Belum lagi, ada penambahan 1 pasien positif Covid-19, BTG-12 kemarin.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengakui sulit mewujudkannya. Apalagi Bontang berstastus KLB. “Sulit, Bontang ini masih berstatus KLB. Kalau mau kita cabut dulu statusnya tapi ada syarat-syaratnya,” jelas Neni di Pendopo Rujab Wali Kota, Rabu (20/5).

Neni mengakui belum bisa memastikan Salat Ied bisa dilaksanakan di masjid atau tanah lapang berjemaah seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk bisa mencabut status KLB pun diakui sulit. Syarat untuk mencabut KLB itu, lanjut Neni, Kota Bontang harus bebas kasus tambahan baru selama 28 hari. Lalu, hasil rapid test massal menunjukkan reaktif.

Sementara, data terbaru yang baru saja dirilis Tim Gugus Covid-19 Bontang, ada penambahan 1 pasien positif baru. Ditambah lagi, 18 orang menunjukan hasil rapid test reaktif samar. Mereka ini berasal dari rapid test massal di pasar dan mal.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Bontang, M Isnaini mengaku hingga saat ini belum menerima laporan adanya penolakan terkait shalat Id di rumah.

Kata dia, anjuran shalat Id di rumah bukan merupakan kebijakan pemerintah semata, namun didasari oleh pandangan seluruh elemen atau kelompok masyarakat agama.

“Enggak ada masalah. Sampai saat ini kami belum menerima informasi. Polres, Kodim, MUI, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Kemenag, organisasi keagamaan yang rapat Sabtu, tak ada masalah. Sepakat Salat Idulfitri di rumah,” jelasnya

Kebijakan Salat Idulfitri di rumah pun terus disosialisasikan ke-200 pengurus masjid yang tersebar di Bontang. Sembari menunggu pemerintah mendistribusikan surat edaran secara tertulis.

“Semua ikut terlibat akan memonitor. Di Bontang (masjid) sekitar 200 lebih, tersebar di 15 Kelurahan yang ada. Suratnya lagi dibuat untuk disebarluaskan ke masjid,” ucapnya. (*)

More Stories
Soal Risiko Tsunami di Kaltim, Ilmuwan Belum Tahu Kapan Longsor Bawah Laut Terjadi