SAAT arus modernisasi kian kuat, warga Kelurahan Satimpo, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) justru memilih merawat tradisi. Lewat syukuran kelurahan yang dirangkaikan dengan Sastra Badra, Sabtu (2/5) malam, halaman kantor lurah berubah menjadi ruang budaya yang menyatukan pemerintah dan masyarakat.
Kegiatan diisi dengan pertunjukan seni dan sastra yang melibatkan komunitas lokal. Hadir dalam acara tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesra Kota Bontang Dasuki, Camat Bontang Selatan Achmad Efa Yuliansyah, Ketua FKUB KH Mulkan Adzima, serta perangkat kelurahan dan warga.
Dasuki menilai langkah Kelurahan Satimpo menarik karena menggabungkan pelayanan publik dengan pelestarian budaya. Menurutnya, pendekatan seperti ini memberi ruang bagi tradisi lokal untuk tetap hidup di tengah perubahan sosial yang cepat.
Ia juga menyinggung regenerasi sebagai kunci. Kegiatan Sastra Badra, kata dia, perlu terus melibatkan generasi muda agar tidak terputus.
“Kalau tidak diwariskan, tradisi bisa hilang,” ujarnya.
Selain itu, momentum acara dimanfaatkan untuk memperkenalkan pejabat baru. Jabatan Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan kini diemban Rahmad menggantikan Ponny Sundari yang dimutasi, sementara posisi Sekretaris Kelurahan diisi Sinar Alif Mulyadi.
Camat Bontang Selatan Achmad Efa Yuliansyah mengingatkan pejabat baru agar cepat beradaptasi. Ia juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat terhadap program kelurahan, terutama yang berbasis kegiatan sosial dan budaya.
Di sisi lain, Lurah Satimpo Maryono melihat kegiatan budaya bukan sekadar hiburan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari pelayanan sosial yang berdampak langsung pada kohesi warga. Menurutnya, hubungan antarwarga yang kuat menjadi modal penting dalam pembangunan di tingkat kelurahan.
Maryono juga menyinggung keterbatasan anggaran yang kerap dihadapi. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak boleh menghambat kreativitas. Kegiatan budaya, kata dia, justru bisa menjadi solusi untuk tetap menghadirkan program yang menyentuh masyarakat.
Sebagai penutup, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Dasuki yang diserahkan kepada Lurah Maryono. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dan pertunjukan tari jepen modern.
Penghargaan juga diberikan kepada tokoh tari Ki Edi Sudaryanto dari Sanggar Sekar Arum, yang langsung membalas dengan penampilan singkat di hadapan warga. [RIL/IR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















