BONTANG, Pranala.co — Bandara Badak LNG di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) sudah lama diam. Landasan pacu tak bergemuruh. Tidak ada sayap pesawat menerobos awan. Yang tersisa hanya sunyi.
Neni Moerniaeni tak suka sunyi. Apalagi sunyi yang menghalangi uang masuk. Wali Kota Bontang ini melihat pola berubah. Investor datang. Lalu bertanya: “Bandaranya di mana?”
“Ketika investor datang, yang pertama mereka tanyakan adalah ketersediaan bandara.” Neni mengulang kalimat itu. Seolah masih terkejut. Seolah baru sadar bahwa insentif pajak, gula-gula perizinan, sudah tak lagi manis.
Yang manis sekarang adalah akses. Langsung. Udara. Pelaku usaha menengah ke atas sudah bergeser. Mereka naik pesawat pribadi. Mereka hindari jalan beraspal panjang yang mengoyak waktu.
“Perjalanan darat yang panjang mulai dihindari,” kata Neni. Selasa (7/4/2026).
Daerah tanpa bandara aktif? Kurang kompetitif. Baca: ditinggal. Neni punya pengalaman. Berulang kali. Tamu penting. Mendarat di Balikpapan. Atau Samarinda. Lalu naik mobil. Berjam-jam. Baru sampai Bontang.
“Ini pengalaman yang sering terjadi. Tamu harus transit di kota lain terlebih dahulu,” jelas Neni.
Kata “transit” terdengar kecil. Tapi bagi Neni, itu kata besar. Kata yang menandakan Bontang bukan tujuan. Bontang jadi tambahan. Pilihan kedua. Atau ketiga.
Neni tak mau Bontang tetap pilihan cadangan. Ia instruksikan Baperida dan Dinas PU Bontang. Jangan pasif. Jangan duduk manis. Hubungi Kementerian Keuangan. Intensif. Hasilnya? Sinyal positif.
Bandara Badak LNG Bontang direncanakan dibangun kembali. Nilai: sekira Rp 32 miliar. Sumber: Kementerian Keuangan. Mungkin. Karena lahan bandara memang di bawah kewenangan mereka.
“Peluangnya ada. Tinggal bagaimana kita mengawal agar prosesnya berjalan,” tambah dia.
Tapi waktu mengintai. Izin operasional Bandara Badak LNG berakhir 2027. Dua tahun lagi. Neni ingin semua selesai sebelum 2027. Jika tidak, pengajuan izin baru akan lebih kompleks. Lebih rumit. Lebih lama.
“Kalau bisa, semua sudah selesai sebelum masa izin berakhir, sehingga tidak perlu memulai dari awal,” tegasnya.
Rencana pembangunan fokus pada runway. Landasan pacu. Tapi Wali Kota Neni ingin lebih. Tidak berhenti pada infrastruktur dasar. Ia ingin fungsi bandara kembali utuh. Hidup. Bernapas.
Bagi Neni, bandara bukan sekadar fasilitas transportasi. Bukan sekadar aspal dan lampu pendarat. Bandara adalah pintu. Pintu masuk pertumbuhan ekonomi. Konektivitas. Mobilitas. Kemudian investasi.
“Jika akses terbuka, mobilitas meningkat, dan ekonomi daerah akan ikut bergerak,” timpalnya.
Neni Moerniaeni ingin Bontang bergerak. Bukan lagi jadi kota yang dituju setelah transit. Bukan lagi pilihan kedua. Tapi tujuan pertama. (ID/FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















