10 Sekolah di Ibu Kota Kaltim Terancam Tak Bisa Belajar Online karena Terkendala Internet

Ilustrasi siswa belajar di rumah selama masa pandemi korona. (Tirto)

PEMKOT Samarinda, Kalimantan Timur belum memberikan izin bagi sekolah untuk laksanakan belajar tatap muka. Pilihan utama masih daring. Maklum saja ibu kota Kaltim ini masih masuk zona merah penyebaran virus corona atau COVID-19. Itu sebab pemerintah tak ingin ambil risiko.

“Iya memang itu pilihan utama, tak ada yang lain,” ujar Asli Nuryadin, kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Selasa (25/8) pagi.

Sayangnya belajar online atau daring (dalam jaringan) bukan tanpa kendala. Sejumlah masalah mengadang. Mulai dari ketersediaan jaringan internet, gawai, kuota hingga titik buta (blank spot) internet.

Persoalan ini bisa jadi batu sandungan dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar guru dan murid di Ibu Kota Kaltim itu. Memang benar, Disdik Samarinda sudah jalin kerja sama dengan pihak Telkomsel untuk pesoalan kuota. Tapi bagaimana dengan masalah lainnya? Kawasan blank spot misalnya. Diketahui ada lima daerah di pinggiran di Samarinda punya jaringan internet buruk, bahkan tanpa jaringan. Kelimanya adalah Makroman, Bantuas, Berambai, Bukit Pinang dan Loa Kumbar.

“Enggak semuanya sebenarnya blank spot. Hanya di sekolah saja. Yang kami terima laporannya ada 5 SD dan 5 SMP yang susah jaringan internet. Totalnnya jadi sepuluh sekolah,” terang Asli.

Lalu bagaimana Disdik Samarinda mengatasi persoalan ini? Asli menerangkan, salah satu solusinya ialah mendatangi langsung rumah para murid yang kesulitan jaringan internet. Memang memakan waktu, namun cara tersebut efektif. Itu artinya belajar tatap muka, tapi dengan catatan, baik guru kunjung dan murid sama-sama taat protokol kesehatan.

Nantinya siswa bisa mengerjakan modul dari Kemendikbud. Metode belajar lainnya ialah, dengan membentuk kelompok. Jumlahnya tidak boleh banyak. Maksimal lima orang saja. Dan salah satu dari lima orang ini punya fasilitas pendukung belajar online.

“Tapi kami kembalikan lagi ke orang tua. Mereka mau atau tidak. Di masa pandemik ini kita harus saling membantu,” sebutnya.

Solusi lainnya, tambah Asli, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Telkomsel untuk mengatasi persoalan blankspot. Rupanya masalah titik buta jaringan ini telah masuk rencana kerja dan nantinya bakal diatasi bertahap. Nah, persoalan terakhir adalah gawai/smartphone dan laptop. Tak semua warga punya barang canggih tersebut. Sementara proses belajar dan mengajar harus terus berlanjut.

“Persoalan ini bisa diatasi dengan belajar bareng bersama teman atau nanti bisa dengan guru kunjung. Semua bisa diatasi asal ada niat,” pungkasnya. (*)

More Stories
Positif Covid-19 Tembus 1.717 Kasus, Kutai Kartanegara Perpanjang Pembatasan Sosial