DUKA masih menyelimuti keluarga Jainuddin (61), nelayan asal Kelurahan Bontang Kuala yang ditemukan meninggal dunia setelah lima hari hilang di laut. Keluarga sepakat menolak autopsi dan memilih agar jenazah segera dimakamkan setelah proses identifikasi dan penyerahan selesai.
Keputusan itu diambil setelah keluarga melihat kondisi jenazah yang dinilai sudah memprihatinkan akibat beberapa hari berada di laut. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Jainuddin tanpa memperpanjang proses yang dianggap tidak lagi diperlukan.
Sepupu almarhum, Samsudin Maskur (59), mengatakan keluarga sudah mencapai kesepakatan untuk tidak meminta autopsi terhadap Jainuddin.
“Dari pihak keluarga sepakat korban tidak diautopsi. Kami memang kasihan, kondisinya sudah memprihatinkan. Biar beliau cepat dimakamkan saja karena sudah terlalu lama,” ujar Samsudin kepada Pranala.co, Selasa (18/8/2026).
Bagi keluarga, musibah yang menimpa Jainuddin sudah diterima dengan ikhlas. Mereka meyakini Jainuddin meninggal setelah tenggelam ketika menjalankan pekerjaannya sebagai nelayan.
Samsudin mengatakan Jainuddin selama hidupnya memang menggantungkan nafkah dari laut. Karena itu, keluarga memandang kepergian Jainuddin tidak lepas dari perjuangannya mencari rezeki untuk istri dan anak-anaknya.
“Beliau meninggal saat mencari nafkah sebagai nelayan. Secara syariat, kami meyakini beliau meninggal dalam keadaan syahid karena tenggelam. Itu yang membuat keluarga sepakat tidak meminta autopsi,” tuturnya.
Pernyataan tersebut merupakan keyakinan keluarga dalam menerima musibah yang menimpa Jainuddin.
Jainuddin dan Laut yang Menjadi Jalan Hidupnya
Bagi warga Bontang Kuala, Jainuddin bukan sosok yang asing. Sejak usia muda, sebagian besar kehidupannya dihabiskan sebagai nelayan dengan menyusuri perairan Bontang untuk mencari ikan.
Samsudin yang tumbuh bersama Jainuddin mengenang sepupunya sebagai pekerja keras. Profesi sebagai nelayan sudah menjadi bagian dari keseharian Jainuddin sejak lama.
“Dari kecil saya sudah sama-sama beliau. Kesehariannya memang selalu mencari ikan di laut,” kata Samsudin.
Namun, ada kebiasaan Jainuddin yang kini justru menjadi kenangan tersendiri bagi keluarga.
Menurut Samsudin, Jainuddin rutin menghadiri pengajian bersama jamaah di surau setiap malam Jumat. Karena kebiasaan tersebut, ia hampir tidak pernah melaut pada malam Jumat.
Keberangkatan Jainuddin ke laut pada Kamis malam, 13 Agustus 2026, karena itu terasa berbeda bagi keluarga.
“Biasanya beliau tidak melaut setiap malam Jumat karena ikut pengajian. Makanya kami juga heran, kenapa malam itu beliau memilih berangkat ke laut,” ungkap Samsudin.
Kenangan tersebut membuat kepergian Jainuddin semakin membekas bagi keluarga. Di tengah duka, mereka mengenang sosok yang selama puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai nelayan.
Lima Hari Pencarian Berakhir di Tanjung Prancis
Jainuddin sebelumnya dilaporkan hilang setelah berangkat melaut pada Kamis, 13 Agustus 2026 sore.
Sehari kemudian, perahu milik Jainuddin ditemukan mengapung tanpa awak di perairan Tobok Batang, dekat Malahing. Penemuan perahu itu kemudian menjadi bagian dari pencarian terhadap Jainuddin.
Tim gabungan melakukan pencarian selama lima hari. Operasi tersebut melibatkan BPBD Bontang, Basarnas, TNI AL, relawan, serta para nelayan setempat.
Pencarian akhirnya menemukan titik terang ketika Jainuddin ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Tanjung Prancis, perairan Teluk Lombok, Kabupaten Kutai Timur.
Kabar tersebut sekaligus mengakhiri pencarian yang dilakukan bersama-sama oleh tim gabungan dan warga.
Jainuddin Tinggalkan Istri, Dua Anak dan Tiga Cucu
Kepergian Jainuddin meninggalkan duka bagi keluarga besarnya. Ia meninggalkan dua anak, masing-masing seorang laki-laki dan perempuan, serta tiga cucu.
Bagi keluarga, Jainuddin bukan hanya seorang nelayan. Ia adalah bagian dari keluarga yang sejak muda menjalani kehidupan dengan bekerja di laut demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang dicintainya.
Kini, setelah lima hari pencarian, keluarga memilih menerima kepergian Jainuddin dengan ikhlas. Mereka meminta agar proses terhadap jenazah segera diselesaikan sehingga almarhum dapat dimakamkan.
Kisah Jainuddin pun berakhir di laut yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya mencari nafkah. Bagi keluarga, kenangan tentang kerja keras dan kebiasaannya menghadiri pengajian setiap malam Jumat akan menjadi bagian yang terus mereka ingat. (*)












