ANCAMAN krisis air bersih mulai membayangi Balikpapan di tengah musim kemarau panjang. Debit Waduk Teritip dan Manggar terus menurun hingga berada di level 9,5 meter.
Direktur Perumda Tirta Manuntung Balikpapa (PTMB) Yudhi Saharuddin mengatakan, penurunan debit waduk terjadi seiring masuknya musim kemarau yang ditandai dengan tidak turunnya hujan selama dua pekan terakhir.
“Masuk ke musim kemarau panjang, sudah dua minggu ini tidak ada hujan. Kami terus memantau, waduk memang sudah mengalami penurunan debit,” ujar Yudhi, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, hingga Agustus 2026, pengambilan air baku dari Waduk Teritip masih berada di kisaran 1.000 liter per detik. Namun, jika kondisi tanpa hujan terus berlanjut, pengambilan air berpotensi dikurangi.
Berdasarkan pola yang telah dibuat Balai Wilayah Sungai (BWS), kata Yudhi, pengambilan air pada Agustus masih dapat dilakukan sekitar 1.000 liter per detik. Jika tidak ada hujan hingga Desember, kapasitas pengambilan diperkirakan hanya sekitar 75 persen dari kondisi normal.
“Kemungkinan nanti sampai Desember, kalau misalnya tidak ada hujan, kita hanya bisa mengambil sampai di angka 75 persen dari biasanya kita ambil. Yaitu 1.150 liter per detik,” jelasnya.
Yudhi mengatakan, kondisi Waduk Teritip saat ini belum mendekati titik dead storage atau batas minimum tampungan yang tidak lagi dapat dimanfaatkan secara normal.
Ia berujar, sebelumnya waduk dapat berada di kondisi dead storage ketika permukaan air berada di kisaran 5 hingga 6 meter. Namun, setelah dilakukan pengerukan, kapasitas waduk dinilai masih lebih baik.
“Mungkin kalau dulu itu bisa sampai 5 meter atau 6 meter, itu sudah dead storage. Sekarang kan habis dikeruk juga, jadi sudah lumayan,” ujarnya.
Meski begitu, PTMB tetap menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga pasokan air bersih apabila kemarau berkepanjangan. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber air alternatif dari sumur.
PTMB sebelumnya telah menambah hampir 10 sumur pada 2025. Selain itu, terdapat sumur milik masyarakat di kawasan Kampung Baru, Balikpapan Barat, yang berpotensi dimanfaatkan dengan debit sekitar 20 liter per detik.
“Itu juga bisa kita bagi di sana,” katanya.
Sementara itu, sumur tambahan yang telah dibangun PTMB tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Balikpapan Timur, Balikpapan Utara hingga Kampung Damai.
Selain sumur, lanjut dia, PTMB juga menyiapkan Embung Wain sebagai sumber air alternatif. Pengambilan air dari embung tersebut nantinya dapat dilakukan melalui IPA Mobile.
Yudhi mengatakan, pihaknya telah melakukan pembahasan dengan pihak kehutanan agar pengelolaan Embung Wain dapat segera dilakukan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kemarin kami sudah rapat dengan Kehutanan, segera supaya kita bisa kelola Embung Wain itu sehingga kemudian bisa kita alihkan untuk masyarakat,” sebutnya.
Di samping itu, langkah antisipasi juga dilakukan dengan menambah armada mobil tangki untuk mendistribusikan air ke wilayah yang mengalami gangguan atau kekurangan pasokan melalui jaringan perpipaan.
Saat ini PTMB memiliki 12 unit mobil tangki. Jumlah tersebut akan ditambah dengan memanfaatkan bantuan pinjaman armada dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Damkar Balikpapan.
“Kemudian, bulan September juga ada dua tangki baru yang saya datangkan,” ungkapnya.
Menurut Yudhi, armada itu nantinya disiapkan untuk merespons wilayah yang mengalami kekurangan air, terutama apabila pasokan melalui jaringan perpipaan tidak mencukupi.
Masyarakat yang membutuhkan air juga akan dipetakan berdasarkan wilayah terdampak, sehingga distribusi menggunakan mobil tangki dapat dilakukan secara langsung.
“Kalau masyarakat membutuhkan, nanti kita berhubungan lebih intens lagi mengenai daerah-daerah mana yang terdampak, supaya kita bisa langsung mengalirkan air melalui mobil tangki,” ucap Yudhi.
Adapun wilayah dataran tinggi juga menjadi perhatian dalam skema antisipasi tersebut. PTMB akan melakukan rekayasa distribusi agar pasokan air tetap dapat menjangkau kawasan yang berada di elevasi lebih tinggi.
“Untuk wilayah dataran tinggi juga termasuk. Nanti akan kita lakukan rekayasa,” terangnya.
Yudhi berharap kondisi kemarau tahun ini tidak berkembang menjadi krisis air seperti yang pernah terjadi pada 2024. Dengan sejumlah sumber air alternatif dan tambahan armada tangki yang disiapkan, PTMB optimistis kebutuhan air masyarakat Balikpapan tetap dapat dipenuhi.
“Kita punya pengalaman tahun 2024. Mudah-mudahan tahun 2026 ini kita bisa lewati dengan aman,” tutupnya. (*)














