PANGKEP, Pranala.co – Desa Bara Batu kembali bersinar dengan semangat pelestarian budaya. Untuk ketiga kalinya, desa yang terletak di Kecamatan Labbakkang, Kabupaten Pangkep ini, akan menggelar Bara Batu Mappadendang Season 3, sebuah perayaan budaya tahunan yang sarat nilai adat dan kebersamaan. Acara akan berlangsung meriah mulai Sabtu, 12 Juli 2025.
Mengusung tema “Bersama Lestarikan Budaya Emas”, perayaan ini tak sekadar menjadi panggung hiburan, melainkan juga wadah memperkuat identitas lokal dan warisan budaya leluhur yang terus dijaga di tengah arus modernisasi.
Mappadendang menjadi jantung dari perayaan ini. Tradisi adat pasca panen ini diiringi bunyi lesung dan alu yang ditumbuk secara ritmis oleh perempuan desa, menciptakan irama yang menenangkan sekaligus menggetarkan jiwa.
Lebih dari sekadar pesta rakyat, Mappadendang merupakan ungkapan syukur atas panen yang melimpah dan simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan leluhur.
“Tradisi ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi dirayakan bersama. Ia mengajarkan kita tentang gotong royong dan rasa syukur,” ujar Haris, Kepala Desa Bara Batu, dalam keterangannya kepada media.
Acara akan dibuka dengan Pawai Obor, yang akan menyusuri jalanan desa dengan cahaya-cahaya semangat kebersamaan. Ribuan warga dan tamu undangan diprediksi akan memadati jalur pawai, yang menjadi simbol harapan dan penerang masa depan budaya lokal.
Tak kalah menarik, panggung utama akan diisi dengan penampilan seni budaya tradisional, seperti Tarian Mappadendang, Pammenca’ (silat tradisional), hingga Maggiri’ (tarian trance) yang memukau.
Sorotan utama malam perayaan adalah penampilan khusus dari Sanggar Seni Masagena. Sanggar ini dikenal piawai mengangkat koreografi khas Bugis-Makassar yang menggambarkan kekuatan nilai adat, keberanian, dan kelembutan dalam harmoni gerak.
Tidak hanya pertunjukan, Bara Batu Mappadendang juga menghadirkan pameran budaya lokal. Di sini, pengunjung bisa menjelajahi beragam hasil karya masyarakat desa—mulai dari kerajinan tangan, alat pertanian tradisional, hasil bumi, hingga kuliner khas yang kaya cita rasa dan sejarah.
Setiap stan pameran seakan menjadi potongan mozaik dari sejarah panjang Desa Bara Batu. Dari makanan tradisional yang diwariskan turun-temurun hingga anyaman bambu yang masih dibuat dengan teknik kuno, semuanya menjadi bagian dari cerita besar tentang kearifan lokal.
Menurut Haris, kegiatan ini adalah bentuk nyata perlawanan terhadap arus homogenisasi budaya yang kian kuat.
“Bara Batu Mappadendang Season 3 adalah undangan terbuka bagi siapa saja untuk menyelami kearifan lokal yang masih lestari. Ini adalah napas segar bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya mereka,” ujarnya.
Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Pemerintah Desa Bara Batu mengundang masyarakat Pangkep dan sekitarnya, termasuk wisatawan lokal maupun mancanegara, untuk hadir dan merasakan langsung kekayaan budaya yang masih hidup dan berkembang. [IR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















