KAWASAN pegunungan Himalaya kini menghadapi ancaman banjir susulan hebat setelah dua danau alami yang terbentuk di perbatasan Nepal dan China dilaporkan berpotensi jebol pada Jumat (28/8/2026). Peringatan darurat ini dikeluarkan saat kedua negara masih berjuang menangani dampak bencana maut yang menewaskan ratusan jiwa pekan ini.
Operasi pencarian dan penyelamatan hingga kini terus berlangsung di tengah puing-puing lereng perbukitan serta lembah sungai. Data resmi mencatat setidaknya 362 orang tewas dan hampir 1.000 warga masih dilaporkan hilang setelah banjir bandang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu lalu.
Pemerintah Nepal dan China mengonfirmasi bahwa penyebab utama bencana mematikan ini adalah runtuhnya gletser di dataran tinggi. Material dahsyat berupa batuan, es, hingga lumpur longsor menghantam aliran sungai pegunungan secara masif hingga memicu luapan banjir bah.
Namun, penderitaan warga perbatasan diprediksi belum berakhir. Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengonfirmasi munculnya danau alami baru yang terbentuk akibat material longsoran membendung aliran sungai utama di lokasi bencana.
Ketinggian air di dalam waduk alami tersebut terus melonjak drastis tiap jamnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bahwa tanggul tanah dan batu itu dapat pecah sewaktu-waktu dan menggelontorkan air bah dalam volume raksasa.
"Penduduk di tepian bawah sungai, para penumpang, tim penyelamat yang terlibat dalam operasi penyelamatan, dan semua pihak terkait diminta untuk sangat berhati-hati dan tetap berada di tempat yang aman, jauh dari tepian sungai dan wilayah berisiko," tegas otoritas penanggulangan bencana Nepal dalam keterangan resminya.
Ancaman serupa membayangi wilayah China. Pemerintah China memperingatkan sekitar 3 juta meter kubik air diperkirakan akan mengalir deras menumpuk ke danau alami di sisi perbatasan mereka dalam tiga hari ke depan.
Sebagai gambaran, volume air raksasa tersebut setara dengan kapasitas 1.200 kolam renang standar Olimpiade. Akumulasi debit air sebesar itu berpotensi kuat merobohkan struktur penyangga alami dan memicu bencana susulan dengan puncak luapan diprediksi terjadi pada 1 September.
Berdasarkan pemantauan udara stasiun televisi pemerintah China, CGTN, rekaman helikopter menunjukkan genangan air berwarna cokelat pekat tertahan di cekungan besar tanpa saluran pembuangan. Air bah tersebut telah menenggelamkan vegetasi sekitar dan terus memberikan tekanan hidrostatik berat pada dinding material longsoran.
Curah Hujan Tinggi Perparah Risiko Bencana
Situasi di lapangan kian kritis menyusul perkiraan cuaca dari Kementerian Sumber Daya Air China yang memprediksi curah hujan tinggi masih akan mengguyur kawasan Himalaya sepanjang pekan depan.
"Volume air terus meningkat, begitu pula risikonya," ujar Peneliti Departemen Hidrologi Kementerian Sumber Daya Air China, Zhu Jinfeng.
Peningkatan risiko ini memaksa tim SAR di Nepal mengubah strategi evakuasi. Sejumlah personel penyelamat mulai ditarik mundur dan diinstruksikan bergerak ke area yang lebih tinggi demi menghindari bahaya banjir susulan mendadak.
Anggota tim evakuasi Nepal, Pawan Koirala, mengungkapkan bahwa ia bersama 13 personelnya memilih bergeser menjauhi dasar sungai demi keselamatan jiwa. "Kami berada di sini untuk melakukan penyelamatan dan tidak ingin berada dekat dengan zona berbahaya," pungkas Koirala. (*)















