PERJALANAN jauh ditempuh perwakilan Masyarakat Adat Paser dari Kalimantan Timur (Kaltim) menuju Jakarta. Membawa keresahan yang telah menahun, mereka mengetuk pintu Ombudsman RI demi satu tujuan: mempertahankan tanah ulayat dari cengkeraman korporasi.
Tergabung dalam komunitas “Awa Kain Naket Bolum”, warga dari empat desa—Lombok, Pait, Sawit Jaya, dan Paser Mayang—ini menyuarakan jeritan hati atas konflik agraria dengan PTPN IV Regional 5 Kalimantan yang tak kunjung usai.
“Kami meminta tidak ada perpanjangan HGU PTPN di empat desa kami. Jelas sekali itu adalah tanah ulayat warisan leluhur untuk anak cucu kami,” ujar Samsul, perwakilan warga, saat audiensi di Kantor Ombudsman RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Suasana audiensi terasa emosional. Bagi Samsul dan warga lainnya, tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan identitas yang harus diwariskan secara turun-temurun.
Anggota Ombudsman RI, Robert Na Endi Jaweng, yang menerima langsung warga, mencium adanya aroma maladministrasi dalam penanganan konflik ini. Ia menyoroti bagaimana instansi pemerintah kerap bungkam saat masyarakat bertanya.
“Ketika Bapak/Ibu bertanya kepada instansi dan tidak dijawab, indikasi awal maladministrasi dari sisi prosedur itu sudah terlihat,” tegas Robert di hadapan warga dan pendamping dari Walhi.
Robert memastikan Ombudsman tidak akan tinggal diam. Namun, demi kecepatan penanganan, ia menginstruksikan agar proses pelaporan dikawal ketat melalui Kantor Perwakilan Ombudsman di Kalimantan Timur.
Ia menjamin, meski ditangani di daerah, kualitas dan perhatian yang diberikan akan setara dengan kantor pusat di Jakarta. Hal ini dilakukan agar warga tidak terbebani secara operasional untuk bolak-balik ke Ibu Kota.
Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Boy Jerry Even Sembiring, yang turut mendampingi, menekankan bahwa kasus ini adalah potret buram birokrasi Indonesia. Ia mendesak adanya koordinasi kuat antarlembaga negara.
“Kami mengadukan belum optimalnya penanganan konflik agraria ini. Negara harus hadir menjamin perlindungan hak masyarakat adat yang kian terhimpit,” ungkap Boy. [RIL/SON]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















